Ratusan truna-truni terlihat berkumpul sejak pukul 15.30 Wita di areal Lapangan Desa Panji. Mereka bersiap Megoak-goakan meski hujan terus mengguyur. Lapangan pun sudah dipenuhi air untuk memudahkan permainan.
Nampak Penonton juga berbondong-bondong menyaksikan permainan megoak-goakan meski menggunakan jas hujan atau payung.
Sekitar pukul 16.00 Wita, tradisi yang diwariskan Ki Barak Panji Sakti inipun mulai digelar. Suasana riang gembira memenuhi areal lapangan. Para truna-truni ini mulai membentuk barisan sebagai pertanda megoak-goakan dimulai.
Ketika permainan dimulai, dibutuhkan 8-10 orang Pemain remaja, putra maupun putri. Mereka membentuk regu yang berbari memanjang ke belakang.
Teknisnya, di depan pemain goak harus menangkap ekor yang ada di belakang, disebut Kacang. Jika ekornya sudah tertangkap maka permainan tersebut dianggap selesai.
Gede Ganesha selaku Pengurus Karang Taruna Desa Panji menjelaskan, meski hujan turun begitu deras sedari pukul 15.30 namun Pemuda dan pemudi di Desa Panji tetap semangat menggelar tradisi Megoak-Megoakan.
“Hujan tak menyurutkan semangat pemuda Panji turun ke lapangan untuk memainkan tradisi yang telah diwariskan oleh Ki Barak Panji Sakti,” kata Ganesha.
Karena sudah jadi tradisi sehari setelah hari raya Nyepi, meski cuaca hujan. tetap dilaksanakan. Sebagai wujud rasa bangga terhadap warisan leluhur.
“Harapannya tradisi ini tetap dipertahankan. Karena menjadi perekat kebersamaan para pemuda dan pemudi desa panji. Selain warga lokal beberapa pengunjung dari luar desa juga diajak serta,” paparnya.
Seperti diketahui, permainan tradisional Magoak-goakan diyakini telah ada sejak masa pemerintahan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti di Buleleng, yang memerintah pada 1660 hingga 1697 Masehi.
Raja Panji Sakti dikenal sebagai pemimpin yang gagah berani, sakti, serta memiliki kebijaksanaan dan budi pekerti luhur. Di bawah kepemimpinannya, ia didukung oleh para mahapatih yang tangguh serta pasukan setia yang dikenal sebagai Teruna Goak.
Pasukan Teruna Goak merupakan kelompok prajurit khusus yang dibekali ilmu bela diri tingkat tinggi dan dipimpin oleh Mahapatih I Gusti Made Bahatan, seorang pemimpin yang sakti serta berdedikasi tinggi dalam menjalankan tugasnya.
Inspirasi permainan Magoak-goakan berawal dari pengamatan Sang Raja terhadap burung gagak (goak) yang terbang melintas di hadapannya.
Burung tersebut menarik perhatiannya karena strategi yang digunakan saat menangkap mangsa dengan kecepatan dan taktik yang luar biasa.
Fenomena tersebut kemudian dijadikan inspirasi oleh Ki Barak Panji Sakti dalam merancang strategi perang untuk menaklukkan Kerajaan Blambangan di Jawa.
Sebelum berangkat ke medan perang, ia menerapkan taktik tersebut dalam bentuk permainan yang kemudian diberi nama Magoak-goakan.
Permainan ini dimainkan dengan aturan ketat, di mana para prajurit membentuk barisan dengan saling memegang pinggang teman di depannya.
Sang Raja bertugas menangkap pemain yang berada di posisi paling belakang. Jika berhasil, maka seluruh prajurit harus mematuhi setiap perintahnya.
Dengan semangat yang membara, permainan ini menjadi ajang latihan strategi dan kekompakan bagi pasukan sebelum berangkat ke Blambangan menggunakan perahu.
Pada saat itu, wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Raja Jagaraga.
Menurut sejarah, semangat yang ditanamkan melalui Magoak-goakan berhasil membangkitkan jiwa kepahlawanan dan patriotisme pasukan Ki Barak Panji Sakti dalam menghadapi musuh.
Tradisi Magoak-goakan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2020.
Hingga kini, nilai-nilai kepahlawanan dalam permainan ini terus dijadikan landasan dalam membangun Desa Panji. (dik)
Editor : I Putu Mardika