BALIEXPRESS.ID-Usai menyatakan permohonan maaf secara terbuka, akun Komang Gede Sentana Putra atau yang dikenal dengan Kedux banjir dukungan warganet.
Permintaan maaf itu dilayangkan oleh Teruna Teruni Yowana Saka Bhuwana (STYSB) Banjar Tainsiat dan Kedux selaku sang konseptor dan penanggung jawab.
Baca Juga: Aksi Ngopi di Tengah Jalan Saat Nyepi Bikin Heboh, Pria Ini Akhirnya Minta Maaf, Begini Pengakuannya
Hal ini lantaran, ogoh-ogoh Banjar Tainsiat menuai banyak kritikan warganet di media sosial.
Ogoh-ogoh yang seharusnya menjadi kebanggaan, justru berujung kekecewaan karena dianggap jauh dari kata sempurna dari segi estetika seni maupun teknis.
"Dengan segala kerendahan hati, kami menyadari karya kami jauh dari kata sempurna dan mengecewakan," ungkap Komang Angga Natyalaksana, Ketua STYSB Banjar Tainsiat, dalam surat permohonan maaf yang ditandatangani bersama Kedux.
Permohonan maaf ini ditujukan kepada seluruh masyarakat, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kota Denpasar, donatur, sponsor, dan kontributor yang telah memberikan dukungan.
Baca Juga: Perekam Video Suasana Nyepi Ramai di Imam Bonjol Denpasar Minta Maaf
Kedux, sebagai konseptor dan penanggung jawab, mengakui adanya kekurangan dalam pengelolaan waktu, pekerjaan personel, dan keuangan yang berdampak pada hasil akhir Ogoh-Ogoh.
"Kami telah membaca dan mendengar berbagai aspirasi berbentuk saran dan kritik dari berbagai elemen masyarakat. Aspirasi tersebut sangat berharga untuk kami," tambah Kedux.
Kedux dan STYSB Banjar Tainsiat berjanji akan menjadikan kritik dan saran tersebut sebagai bahan evaluasi untuk berkarya lebih baik di masa depan.
Surat permohonan maaf yang diunggah melalui akun @kedukgarage itu pun menuai beragam dukungan warganet.
Ribuan komentar warganet menyemangati agar Banjar Tainsiat kembali bekarya dan menantikan karya-karya selanjutnya.
“Matur suksma telah menjaga adat, budaya dan tradisi. Kobarkan selalu taksu semangat dan kekuatan,” tulis akun senator RI @niluhdjelantik.
“Cukup monto nganggo mesin pakman. Jujur Bade Mas, Sampian Mas, Siwer Mas, Kepet Agung menjadi pakem dan ciri Tainsiat yang mutlak. Metaksu, ulian mesin masuk di konsep pembuatan ogoh-ogoh masyarakat bes tinggi ngejang ekspektasi. Tanpa rasa hormat, pertahankan pakem Tainsiat seperti sedia kala sebelum dikaitkan dengan motoric,” tulis akun @og_egy.
Editor : Wiwin Meliana