Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengatasi Tingginya Kasus Disleksia di Bali, Solusi Melalui Bahan Bacaan Ramah Disleksia

I Putu Mardika • Rabu, 2 April 2025 | 01:14 WIB

 

Ketut Trika Adi Ana, M.Pd, Akademisi Undiksha yang fokus meneliti kasus disleksia
Ketut Trika Adi Ana, M.Pd, Akademisi Undiksha yang fokus meneliti kasus disleksia
BALIEXPRESS.ID-Kasus siswa sekolah dasar di Bali yang mengalami disleksia tergolong tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Andrea Carrol, setidaknya 20%-40% siswa sekolah dasar di Bali mengalami disleksia.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi disleksia secara global yang berkisar antara 5%-15%.

Menurut Akademisi Undiksha, yang getol meneliti kasus Disleksia, Ketut Trika Adi Ana, M.Pd Siswa dengan disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis, tetapi juga menghadapi berbagai permasalahan psikologis.

Salah satunya adalah kecemasan akademik, di mana mereka merasa cemas setiap kali harus pergi ke sekolah, mengerjakan tugas, atau menghadapi ujian.

Bahkan, dalam beberapa kasus, anak dengan disleksia kerap menjadi korban perundungan dan mendapat pelabelan negatif karena dianggap lebih lambat dalam menguasai keterampilan membaca dan menulis dibandingkan dengan teman sebaya mereka.

Melihat kondisi ini, tingginya kasus disleksia di Bali membutuhkan perhatian dan penanganan serius.

Siswa dengan disleksia memerlukan intervensi khusus yang dapat membantu mereka mengembangkan kemampuan membaca.

Penting untuk memahami bahwa mereka memiliki cara belajar yang berbeda. Anak dengan disleksia sering kali kesulitan membedakan huruf yang mirip, seperti ‘b’ dan ‘d’, ‘p’ dan ‘q’, serta ‘l’ dan ‘I’.

Selain itu, mereka juga mengalami kesulitan dalam membedakan kapan huruf ‘e’ berbunyi /e/ dan kapan harus dibunyikan /Ə/.

“Tidak hanya itu, mereka kerap mengalami kesulitan berkonsentrasi saat membaca teks panjang,” jelasnya.

Dalam beberapa kasus, anak dengan disleksia bahkan melihat teks tampak bergelombang atau melompat-lompat, sehingga mereka memerlukan bahan bacaan yang didesain khusus agar lebih mudah dibaca.

Trika yang juga anggota Kelompok Peneliti Pendidikan Inklusif Universitas Pendidikan Ganesha, menunjukkan bahwa bahan bacaan yang didesain khusus sesuai dengan karakteristik anak disleksia dapat membantu mereka membaca dengan lebih baik.

Bahan bacaan yang dikembangkan berupa cerita sederhana yang menggunakan font khusus OpenDyslexic, yang dimodifikasi dengan variasi warna per suku kata, ukuran font, serta aktivitas multisensori.

Dari peneltian yang dilakukan, bahan bacaan tersebut membantu anak disleksia membedakan huruf yang mirip serta meningkatkan kelancaran membaca.

“Selain itu, penggunaan alat bantu penunjuk juga terbukti efektif dalam membuat anak disleksia untuk fokus dalam membaca,” ungkapnya.

Lebih dari itu, bahan bacaan yang menyedikan berbagai aktivitas ini juga membuat proses membaca menjadi lebih menyenangkan, sehingga berpotensi mengurangi kecemasan akademik mereka.

Hasil penelitian ini juga telah dipresentasikan di University of Sydney pada 29 Maret 2025 dan mendapatkan respons positif dari para peserta diskusi.

“Diharapkan, bahan bacaan ramah disleksia yang dikembangkan dapat menjadi instrumen intervensi yang lebih efektif dan dapat dimanfaatkan oleh anak-anak dengan disleksia di Bali serta di seluruh Indonesia,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#anak #bali #disleksia #akademisi #undiksha #bacaan