BALIEXPRESS.ID – Gelombang kecemasan kembali menyelimuti warga sekitar Jembatan Tukad Bangkung. Belum hilang ingatan akan kasus bunuh diri seorang anggota kepolisian yang terjadi kurang dari sebulan lalu, jembatan megah yang menghubungkan Desa Pelaga dan Belok Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, kembali menjadi saksi bisu tragedi serupa.
Fenomena tragis ini sontak menimbulkan pertanyaan besar: ada apa dengan Jembatan Tukad Bangkung? Mengapa jembatan yang dikenal dengan keindahan arsitekturnya ini justru menjadi lokasi yang dipilih untuk mengakhiri hidup?
Rentetan kejadian ini membuat para prajuru (pemimpin) kedua desa tersebut bergerak cepat.
Baca Juga: Profil dan Kekayaan Anggota DPRD Gianyar I Nyoman Kandel: Ternyata Tak Punya Alat Transportasi Mesin
Mereka mengajukan usulan penambahan infrastruktur jembatan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali.
Plt Camat Petang, AA Ngurah Darma Putra, mengungkapkan keprihatinannya atas seringnya kasus bunuh diri di jembatan tertinggi di Bali ini.
"Rencana kami akan menghadap dulu ke Bapak Bupati dan minta petunjuk, karena sudah sering sekali kejadian nika (itu)," ujarnya saat dikonfirmasi pada Jumat (4/4).
Terkait kejadian terakhir, pihaknya masih menunggu arahan lebih lanjut dari Bupati Badung, meskipun ritual Pecaruan telah dilakukan pasca-insiden sebelumnya di pertengahan Maret 2025.
Lebih lanjut, Darma Putra menyampaikan bahwa prajuru Desa Pelaga dan Belok Sidan telah mengidentifikasi beberapa solusi potensial.
"Ada banyak usulan yang diusulkan dari dua desa ini. Salah satunya mungkin dikasi terali besi seperti di Jembatan Suramadu nika (itu)," jelasnya.
Namun, implementasi usulan ini masih menunggu lampu hijau dari Bupati Badung.
Sementara itu, Plt Kadis PUPR Badung, I Nyoman R Karyasa, menyatakan bahwa usulan perbaikan infrastruktur untuk mencegah bunuh diri masih dalam tahap koordinasi.
Mengingat status Jembatan Tukad Bangkung sebagai jalan milik Provinsi Bali, pihaknya perlu berkoordinasi lebih lanjut dengan pemerintah provinsi terkait langkah-langkah yang akan diambil, termasuk kemungkinan pemasangan jaring pengaman.
"Kami akan koordinasikan lebih lanjut dengan pihak provinsi terkait apa yang akan dilakukan. Karena itu kaitannya dengan kewenangan provinsi. Kalau harus dipasang jaring, seperti apa bentuknya, juga agar sesuai standar. Agar pengendaranya juga tidak terganggu," terang Karyasa.
Masyarakat kini menanti jawaban atas misteri di balik rentetan kejadian tragis ini.
Langkah konkret apa yang akan diambil pemerintah daerah dan provinsi untuk menghentikan "kutukan" di Jembatan Tukad Bangkung dan memberikan rasa aman bagi warganya? ***
Baca Juga: GEGER UBUD! Anggota DPRD Gianyar 'Diserbu' Belasan Pria Kekar di Warung, Ada Apa di Balik Layar?
Editor : I Putu Suyatra