SINGARAJA, BALI EXPRESS - Tak semua orang merencanakan masa depan dengan rapi. Ada juga yang hidupnya berbelok arah karena satu momen tak terduga. Seperti yang dialami oleh Letkol Kav. Angga Nurdyana, Komandan Distrik Militer (Kodim) 1609/Buleleng. Siapa sangka, pria yang sejak remaja lebih akrab dengan gunung dan hutan ini, kini memimpin satuan teritorial di ujung utara Pulau Bali.
Lahir dan besar di Cimahi, sebuah kota yang identik dengan institusi militer, Angga justru tidak pernah punya keinginan menjadi tentara. Meski tumbuh di lingkungan yang “lempar batu bisa kena tentara”, dan dikelilingi oleh keluarga serta tetangga berlatar belakang militer, minatnya semasa sekolah justru tertuju pada dunia kehutanan.
“Saya anak Mapala. Dunia saya waktu itu ya gunung dan hutan. Cita-cita saya pengen kuliah di fakultas kehutanan,” kenangnya.
Namun hidup berkata lain. Setelah lulus SMA, saat sedang bermain basket bersama teman-temannya, Angga secara tidak sengaja ikut mengantar salah satu temannya mendaftar ke Akademi Militer. Rasa penasaran membuatnya membuka brosur pendaftaran. “Pas saya baca syarat-syaratnya, saya pikir, ini sih saya bisa,” ujarnya sambil tertawa.
Mulailah petualangan barunya. Tanpa sepengetahuan orang tua, Angga memalsukan tanda tangan untuk syarat administrasi dan mengikuti seluruh tahapan seleksi secara diam-diam. Hingga akhirnya, saat dirinya harus berangkat ke Magelang untuk tes tingkat pusat, ia baru memberanikan diri meminta restu dari keluarga.
“Orang tua awalnya menolak. Bapak saya PNS golongan 3B, beliau khawatir tidak bisa membiayai. Tapi akhirnya mengizinkan juga, meski hanya dibekali uang seratus ribu rupiah dan doa,” cerita Angga.
Perjuangannya tidak sia-sia. Ia diterima di Akademi Militer dan resmi memulai karier militer. Penugasan pertamanya tak main-main—langsung ke wilayah perbatasan di Kepulauan Talaud dan Nias, di ujung utara Indonesia. “Pernah seminggu makan cuma kelapa, mie, dan kepiting kecil-kecil itu karena kapal pasokan nggak bisa masuk,” ujarnya.
Baca Juga: Raih KJB Award, Ini Profil Kapolres Buleleng AKBP Ida Bagus Widwan Sutadi
Setelah itu, karirnya terus menanjak. Ia pernah bertugas di Jawa Timur, Ambon, Jakarta, dan akhirnya ke Bali sejak tahun 2018. Di Bali, ia sempat menjabat di bidang teritorial dan intelijen sebelum akhirnya dipercaya memimpin Kodim 1609/Buleleng pada tahun 2023.
Bagi Letkol Angga, bertugas di Bali adalah pengalaman yang sangat berkesan. “Yang saya kagumi di Bali itu, budaya dan agama menyatu. Budaya di sini bukan sekadar warisan, tapi bagian dari cara hidup. Di tempat lain, budaya dan agama bisa berjalan sendiri-sendiri, tapi di Bali tidak,” ungkapnya.
Ia menilai, harmoni sosial dan keberagaman di Bali menjadi kekuatan tersendiri yang bisa menjadi contoh bagi daerah lain. “Kalau nilai-nilai lokal ini bisa diadopsi lebih luas, saya yakin kehidupan sosial kita akan jauh lebih damai.”
Pengalamannya bertugas di wilayah pasca-konflik seperti Ambon pun menjadi bekal berharga. Ia memahami pentingnya membangun rasa saling percaya dan menghargai perbedaan. “Dulu saya lihat sendiri bagaimana konflik memecah masyarakat. Tapi sekarang Ambon sudah luar biasa. Mereka sadar bahwa konflik hanya meninggalkan luka,” katanya.
Dari sisi keluarga, Letkol Angga mengaku selalu mendapat dukungan penuh dari istri. Pesan yang selalu diingatnya sederhana namun dalam maknanya: selalu berkomunikasi saat bertugas, dan jangan lupa berdoa. “Kita tidak tahu apa yang terjadi di luar, tapi kalau keluarga tahu dan merasa tenang, itu sudah cukup,” ujarnya.
Kini, Letkol Kav. Angga Nurdyana menjalani tugasnya di Buleleng dengan penuh semangat. Ia percaya, setiap perjalanan hidup, seberapapun berliku dan tak terduga, pasti mengantarkan seseorang ke tempat yang seharusnya.
“Dulu saya tidak pernah bercita-cita jadi tentara. Tapi hidup kadang punya rencana sendiri. Dan saya bersyukur bisa sampai di titik ini,” tutupnya. ***
Editor : Dian Suryantini