Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Baris Jojor di Desa Selulung, Kintamani Dipentaskan saat Pujawali, Simbol Kejujuran

I Putu Mardika • Selasa, 8 April 2025 | 03:35 WIB

Tari Baris Jojor Lutung Jenuk di Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli yang menggambarkan simbol kejujuran
Tari Baris Jojor Lutung Jenuk di Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli yang menggambarkan simbol kejujuran
BALIEXPRESS.ID-Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli memiliki tarian unik yakni Tari Baris Jojor Lutung Jenuk. Tarian ini tergolong sarat akan makna dalam pementasannya.

Tokoh Pemuda Desa Selulung, yang juga akademisi Prodi Seni dan Kebudayaan Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Putu Ardiyasa, S.Sn, M.Sn Tari Baris Jojor Lutung Jenuk adalah salah satu jenis tari baris yang berasal dari Desa Selulung, Kintamani, Bangli, Bali.

Tari ini dibawakan oleh 16 orang penari laki-laki yang dalam pertunjukannya memainkan karakter sesuai penokohannya.

Penari ini kemudian dibagi menjadi tiga peran, yaitu 14 orang penari berperan sebagai penari Jojor yang sekaligus merangkap untuk memerankan lutung, satu orang penari sebagai Ki Dukuh, dan satu orang penari berperan sebagai istri Ki Dukuh.

“Tari Baris Jojor Lutung Jenuk memiliki keunikan, dimana dalam pertunjukannya menampilkan adegan bebanyolan (lelucon). Tata rias dan busana serta geraknya sangat sederhana, dengan diiringi gambelan Gong Gede,” jelasnya.

Baca Juga: EKSKLUSIF! Shin Tae-yong Akhirnya Buka Suara Soal Kabar Comeback ke Indonesia, Melatih Persija atau Persebaya!

Kata Jojor dalam bahasa keseharian masyarakat Kintamani memiliki makna ganda, yakni jujur dan nyejer. Taris baris menekankan pentingnya perilaku jujur dalam pelaksanaan yadnya, baik dalam pikiran, tingkah laku, maupun perkataan.

“Tarian ini dipentaskan dalam ritual di Desa Selulung, dan menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk menyaksikan,” kata Ardiyasa.

Tarian ini sarat akan makna keseimbangan dalam menjalankan ajaran dharma menjadi fokus, dan upacara yadnya menjadi panggung utama untuk mengekspresikan nilai kejujuran dari si penari.

“Asal muasal kata "jojor" yang bermakna jujur menjadi relevan dengan kebutuhan kejujuran dalam upacara keagamaan, menciptakan hubungan erat antara kata dan praktik keagamaan,” imbuhnya.

Peran "jojor" dan "nyejer" dalam proses pelaksanaan yadnya sangat penting. Kesinambungan antara kejujuran dalam tindakan sehari-hari dan keteraturan dalam tarian menciptakan harmoni dalam upacara keagamaan.

Baca Juga: Pekak Sudirga tak Kunjung Ditemukan, BPBD dan Basarnas Hentikan Pencarian: Ini Alasannya

Selanjutnya, arti dari kata "Lutung" yang berarti monyet dan "Jenuk" yang diartikan sebagai berkerliaran, membuka lembaran cerita masyarakat desa adat Selulung.

Meskipun pencipta tarian belum pasti diketahui, namun tarian ini diyakini telah ada sebelum kedatangan Majapahit ke Bali.

Dengan dibawakan oleh 16 penari laki-laki, tarian ini menggambarkan karakter Jojor yang merangkap menjadi lutung.

Keunikan tarian ini terletak pada adegan bebanyolan (lelucon), memberikan sentuhan keceriaan dalam pertunjukan yang sederhana namun sarat makna.

Masyarakat Desa Selulung menunjukkan rasa hormat dan tanggung jawab yang tinggi terhadap tarian ini, mengajarkannya kepada anak-anak dan memberikan perhatian khusus pada upacara-upacara tertentu. Gotong royong menjadi kunci dalam menjaga kekompakan penari dan solidaritas dalam melestarikan kebudayaan

Tarian ini juga mencerminkan nilai keberanian melalui gerakan yang menunjukkan sikap siap tempur dan tidak takut menghadapi musuh. Kedisiplinan tercermin dalam gerakan rapi dan teratur, sementara kerjasama ditunjukkan melalui kesatuan penari dalam pementasan.

Baca Juga: Kronologi Pengendara Motor Terjun ke Sungai hingga Penuh Lumpur, Diduga Gegara Ngantuk

Kesetiaan dan kepatuhan tergambar dalam gerakan yang menggambarkan hubungan antara Ki Dukuh dan Istrinya. Tingkat sosial masyarakat Selulung terlihat dari rasa gotong royong dalam membagi tugas penari, menjaga kekompakan, dan saling membantu.

“Pementasan pada pujawali. Tarian Baris Jojor Lutung Jenuk tak hanya mengajarkan nilai keagamaan dan tanggung jawab, melainkan juga nilai-nilai lain seperti toleransi, kejujuran, dan kesetiaan,” pungkasnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#Kintamani #Baris Jojor Lutung jenuk #bangli #tari #baris #Desa Selulung