Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Janger Kolok Desa Bengkala, Tarian Sunyi yang Menggema

Dian Suryantini • Selasa, 8 April 2025 | 19:17 WIB

Pertunjukan Tari Janger Kolok dari Desa Bengkala di panggung terbuka RTH Taman Bung Karno, Singaraja.
Pertunjukan Tari Janger Kolok dari Desa Bengkala di panggung terbuka RTH Taman Bung Karno, Singaraja.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS — Di tengah sunyinya percakapan dan senyapnya suara, tercipta sebuah pertunjukan seni. Tarian Janger Kolok, sebuah karya dari para penyandang disabilitas tuli dan bisu di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya.

Tari Janger Kolok diciptakan oleh almarhum Wayan Ngedeg pada tahun 1969. Ia memadukan elemen tarian janger tradisional Bali dengan pencak silat, lalu menggantikan bagian nyanyian dengan bahasa isyarat. Dalam pertunjukannya, dua penari perempuan dan delapan penari laki-laki tampil anggun diiringi oleh satu kecek dan satu penabuh kendang sebagai pengatur irama. Tarian ini mengangkat kisah Arjuna Wiwaha yang ditulis oleh Mpu Kanwa, menambah kekayaan budaya yang terkandung di dalamnya.

Tarian Janger Kolok dengan cerita Arjuna Wiwaha itu dipentaskan pada malam HUT Kota Singaraja ke-421 di RTH Taman Bung Karno, Senin (7/4) malam. Tarian yang sunyi turut membawa penonton terhanyut dalam suasana senyap. Ribuan pasang mata tertuju pada penari. Setiap Gerak dan improvisasi yang dilakukan tak luput dari pandangan penonton.

Desa Bengkala dikenal unik karena menjadi tempat tinggal sekitar 42 warga Kolok (mungkin lebih) —istilah lokal untuk mereka yang menyandang tuna rungu dan tuna wicara—dari total penduduk 3.000 lebih. Sejarah mencatat kemunculan warga Kolok pertama kali sekitar tahun 1940. Sejak itu, kelompok ini berkembang dan menemukan ruang ekspresi melalui seni pertunjukan, yang akhirnya melahirkan Sanggar Janger Kolok.

Baca Juga: Tradisi Meamuk-amukan dan Janger Kolok Jadi WBTB Indonesia

Berbeda dari janger tradisional yang biasanya disertai dengan nyanyian, Janger Kolok sepenuhnya disampaikan melalui gerakan tubuh dan isyarat. Para penarinya mampu menyatukan gerak, emosi, dan pesan dengan sangat padu. Hanya berbekal kendang sebagai pengatur ritme, tarian ini justru semakin terasa magis dan menyentuh.

Kepala Desa Bengkala, I Made Astika, menyatakan bahwa kesenian ini lahir dari keinginan masyarakat untuk menciptakan hiburan yang berbeda dari pertunjukan rakyat biasa. “Mereka yang menyandang status sebagai tuli bisu mampu menunjukkan potensi mereka melebihi dari orang-orang normal. Keterbatasan bukan menjadi alasan untuk berhenti berkarya,” jelasnya.

Yang menarik, seluruh warga Desa Bengkala—baik Kolok maupun tidak—menguasai bahasa isyarat sebagai alat komunikasi sehari-hari. Bahkan, mereka yang tidak memiliki keterbatasan lebih memilih berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang dikembangkan secara lokal. Bahasa ini berbeda dengan standar internasional dan dapat dipelajari dengan relatif cepat karena kesederhanaannya.

Lebih dari sekadar pertunjukan, Janger Kolok menjadi simbol persatuan dan inklusivitas. “Dengan adanya tari janger kolok ini, mereka yang tidak bisa mendengar maupun berbicara mampu mengeksplorasi potensi mereka dan tidak merasa terasingkan,” lanjutnya.

Kehadiran Janger Kolok tidak hanya mengangkat nama Desa Bengkala tetapi juga memberikan pelajaran penting, bahwa kreativitas dan semangat berkarya tidak mengenal batas. Dari desa kecil di utara Bali, suara yang tak terdengar justru menggaung paling keras—melalui gerakan, semangat, dan seni. ***

Editor : Dian Suryantini
#janger #pencak silat #bengkala #penari #Arjuna Wiwaha #Kolok