BALIEXPRESS.ID-Dr Djaja Surya Atmadja mengungkap bahwa Bali menjadi provinsi di Indonesia yang memiliki tingkah kasus bunuh diri paling tinggi.
Lebih lanjut, ahli forensik ini menyebut bahwa kasus bunuh diri di Bali bisa disebabkan karena tingkat beban yang lebih tinggi dari daerah lain.
Baca Juga: Preman Todong Bus Pariwisata Pakai Golok, Aksi Gagal Usai Diteriaki Penumpang
Pasalnya, masyaraat Bali memiliki tanggung jawab tinggi terhadap kehidupan bermasyarakat (menyama braya).
Terkait pernyataan tersebut, Senator RI Bali, Arya Wedakarna pun turut buka suara.
Melalui akun media sosialnya, Arya Wedakarna menawarkan solusi agar beban sosial masyarakat Bali bisa lebih dimudahkan.
Baca Juga: Turnamen Petanque Jadi Ajang Pembibitan Atlet Klungkung Menuju Porprov
Pihaknya menawarkan agar upacara dan ritual agama serta Eedan karya disederhanakan.
“Atau prajuru adat tidak boleh protes jika banyak anak muda Hindu akan pindah agama,” tulis AWK dikutif pada Kamis (10/04/2025).
Pihaknya juga berpesan agar masyarakat Bali yang tidak kuat dengan beban sosial tidak mengambil jalan bunuh diri.
“Bagi yang kuat jalankan, yang tidak kuat jangan bundir nggih, NKRI memberikan ruang pada warga untuk pindah agam dan keluar dari Desa Adat,” tulisnya.
Sebelumnya, dr Djaja menyebut bahwa Bali menjadi wilayah dengan kasus bunuh diri tinggi karena tingkat stresnya juga tinggi.
Baca Juga: Ini Tampang Dokter Residen Anestesi yang Rudapaksa Keluarga Pasien, Polisi Ungkap Aksi Bejatnya
Dr Djaja membandingkan Bali dengan kota besar seperti Jakarta.
Meski di Jakarta merupakan kota besar dengan berbagai jenis permasalahan, namun data statistic menyebut angka bunuh diri di kota tersebut lebih rendah dari Bali.
“Bunuh diri itu perlu keberanian, tidak semua orang berani bunuh diri,” pungkasnya.
Editor : Wiwin Meliana