BALIEXPRESS.ID – Kebijakan pengurangan sampah plastik yang kini gencar diterapkan pemerintah, termasuk kewajiban penggunaan tumbler di kalangan ASN dan masyarakat, ternyata membawa berkah tersendiri bagi para pelaku seni tradisional di Desa Kamasan, Klungkung.
Inovasi tumbler bergambar Wayang Kamasan menjadi salah satu produk yang kini ramai diburu, sekaligus menghidupkan kembali denyut seni lukis khas desa tersebut.
Inovasi ini digagas oleh Komang Kirtania Hari Arati, 27, pengusaha muda asal Banjar Pande Kaler, Desa Kamasan. Berbekal semangat melestarikan budaya lokal sekaligus menjawab tantangan era pasca-pandemi, Kirtania memproduksi tumbler berbahan stainless yang dilapisi bambu, dihiasi lukisan wayang khas Kamasan.
“Ketika pandemi melanda, para pelukis di desa kami kehilangan penghasilan karena kunjungan wisatawan berhenti total. Mayoritas dari mereka sudah berusia lanjut dan menggantungkan hidup dari seni lukis. Dari situ saya berpikir untuk membuat produk yang bisa diterima generasi muda tanpa meninggalkan akar budaya,” ujar Kirtania saat ditemui di rumah produksinya beberapa waktu lalu.
Proses produksi tumbler tidaklah mudah. Setiap tumbler melewati serangkaian tahap rumit, mulai dari pembuatan pola cerita pewayangan, pewarnaan, proses nyawi atau penguatan garis dengan tinta khusus, hingga lapisan akhir berupa dua tahap pernis. Dengan tingkat kerumitan tinggi, satu orang pelukis hanya mampu menyelesaikan satu tumbler dalam sehari.
Saat ini, Kirtania memberdayakan 13 pelukis Wayang Kamasan yang sebagian besar berusia lanjut. Mereka kini kembali memiliki pekerjaan tetap, dan hasil karya mereka diapresiasi dalam bentuk yang lebih modern dan fungsional.
Produk ini mulai mendapat perhatian setelah dipesan oleh Sekda Klungkung, Anak Agung Lesmana. Popularitasnya kian meningkat seiring terbitnya Surat Edaran Gubernur Bali yang melarang penggunaan plastik sekali pakai. Sejak saat itu, pesanan datang dari berbagai kalangan mulai dari aparatur sipil negara, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang mencari suvenir bernilai seni.
Tumbler yang dibanderol seharga Rp250 ribu per buah ini paling diminati dengan lukisan tokoh pewayangan seperti Semaratih dan pasangan Rama-Sita. Hingga kini, lebih dari 200 unit telah terjual, dan tim Kirtania tengah menyiapkan 200 tumbler tambahan untuk dipamerkan dalam Festival Semarapura pada akhir April.
Meski sempat menghadapi kendala distribusi bahan baku karena libur Lebaran, Kirtania tetap optimis. “Tantangannya memang ada, tapi kami tetap semangat. Ini bukan sekadar usaha, tapi juga perjuangan untuk menjaga agar seni lukis Wayang Kamasan tetap hidup dan dikenal generasi muda,” tegas lulusan Manajemen Bisnis Universitas Ngurah Rai ini.
Melalui inovasi ini, Kirtania tak hanya menciptakan peluang ekonomi baru, tapi juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan. (*)