BALIEXPRESS.ID – Selain terkenal dengan tradisi mekare-kare atau mageret pandan, Desa Tenganan Dauh Tukad di Kecamatan Manggis, Karangasem, juga memiliki satu tradisi unik lainnya yang tak kalah menarik.
Tradisi itu disebut Mesabatan Biu. Tradisi ini menjadi ajang simbolik bagi para pemuda adat (truna) untuk menguji kekuatan fisik dan mental dua sosok penting dalam adat setempat, yaitu saye dan penampih.
Dalam bahasa Bali, “mesabatan” berarti melempar, dan “biu” berarti pisang. Sesuai namanya, dalam ritual ini para pemuda saling melempar pisang dalam prosesi adat yang sarat makna spiritual dan sosial.
Tradisi Mesabatan Biu hanya digelar setahun sekali, tepatnya pada hari kelima setelah rahina purnama sasih ketiga menurut kalender Desa Tenganan.
Bila disesuaikan dengan kalender Bali umum, tradisi ini jatuh setelah purnama sasih Jyestha.
Bendesa Tenganan Dauh Tukad, I Wayan Tisna, Selasa (15/4), menjelaskan, tradisi ini murni dilaksanakan oleh para truna adat.
Tidak ada keterlibatan langsung dari orang tua atau krama desa dalam pelaksanaan ritual ini. "Ini tanggung jawab penuh para pemuda. Klian desa hanya mengarahkan dan memberi masukan jika ada yang keliru,” ujarnya.
Prosesi Mesabatan Biu digelar di area Pura Bale Agung, namun lemparan pisang bisa dilakukan sejak para peserta melewati balai banjar.
Menariknya, tidak semua pemuda saling lempar pisang secara bebas. Fokusnya adalah dua pemuda yang telah dipilih sebagai saye dan penampih, yang menjadi target lemparan oleh truna lain menggunakan pisang jenis dangsabe.
Para saye dan penampih ini memikul 20 buah kelapa, 10 di depan dan 10 di belakang, sebagai beban fisik. “Itu untuk menahan kerasnya lemparan. Kalau tidak ada beban, bisa terlalu sakit,” kata Tisna.
Tujuan dari tradisi ini bukan semata-mata adu fisik, melainkan ujian ketahanan fisik dan mental bagi saye dan penampih sebelum mereka naik ke peran sosial dan adat yang lebih tinggi.
Bahkan kelapa dan pisang yang digunakan dikumpulkan sendiri oleh para pemuda dari lahan warga sekitar, selama dua hari sebelum pelaksanaan upacara.
Meski sering meninggalkan lebam, tidak ada dendam dalam prosesi ini. “Ini bagian dari upacara adat. Setelahnya, mereka biasa tertawa bersama,” tambahnya.
Namun, ada aturan ketat yang wajib ditaati: kelapa yang dipikul tidak boleh sampai terlepas. Jika itu terjadi, maka pemuda yang bersangkutan harus membayar denda sesuai harga kelapa yang jatuh. “Ini melatih kejelian, keterampilan, dan kedisiplinan,” pungkas Tisna. (*)
Editor : Nyoman Suarna