BALIEXPRESS.ID – Kasus pemukulan terhadap pecalang di kawasan suci Pura Agung Besakih akhirnya menguak fakta mengejutkan.
Pemicu insiden tersebut ternyata hanya karena adu mulut sepele yang bikin panas telinga.
Peristiwa yang berujung pada aksi kekerasan ini berawal dari kesalahpahaman antara pecalang bernama I Nengah Wartawan dan seorang pamedek saat pengarahan jalur keluar dari area Bencingah Pura.
Wartawan yang kala itu sedang bertugas mengarahkan pamedek agar keluar lewat jalur barat, malah mendapat respons sinis dengan ucapan dalam bahasa Bali: "Joh dong?" (Jauh dong?).
Wartawan pun membalas dengan nada santai: "Ke Lempuyang mare joh mejalan" (Ke Lempuyang baru terasa jauh berjalan).
Alih-alih mereda, jawaban tersebut justru menyulut emosi pamedek. Adu mulut tak terhindarkan dan akhirnya berujung pemukulan terhadap Wartawan.
Ternyata, tiga orang pelaku pengeroyokan yang kini telah diamankan polisi, bukan sembarang orang. Mereka adalah satu keluarga, ayah dan dua anak, berinisial IGLR (56), IGLAED (30), dan IGNAAP (21), yang berdomisili di Kecamatan Selat, Karangasem.
Tak hanya itu, IGLR sang ayah, disebut-sebut merupakan seorang residivis dalam kasus pembunuhan yang pernah terjadi di wilayah Selat.
"Memang benar, salah satu dari tiga pelaku adalah residivis, tapi kasusnya sudah lama," ungkap Kasi Humas Polres Karangasem, Iptu I Gede Sukadana.
Kini, ketiga pelaku sudah ditahan di Polres Karangasem untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Penahanan dilakukan usai penyidik mengantongi bukti dan keterangan dari sejumlah saksi. (*)
Editor : Nyoman Suarna