Kasus Pemukulan Pecalang di Besakih: Benarkah Oknum Polisi Terlibat? Kapolres Ungkap Fakta Mengejutkan!
I Wayan Adi Prabawa• Jumat, 18 April 2025 | 01:13 WIB
DIPUKUL: Salah seorang pecalang di Pura Agung Besakih mengalami luka memar di wajah karena dipukul oknum pamedek, Senin (14/4).
BALIEXPRESS.ID - Gelaran upacara sakral Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih mendadak ternoda oleh insiden pemukulan seorang pecalang oleh sekelompok keluarga.
Kasus yang viral di media sosial ini tak hanya menyulut emosi publik, namun juga memunculkan berbagai spekulasi liar, termasuk dugaan keterlibatan oknum anggota kepolisian.
Benarkah demikian?
Kapolres Karangasem, AKBP Joseph Edward Purba, akhirnya turun tangan untuk meluruskan kabar yang beredar bak bola liar tersebut.
Dalam pernyataan resminya, perwira dengan dua melati di pundaknya ini dengan tegas membantah keterlibatan anggota Polri dalam insiden yang mencoreng kesucian pura terbesar di Bali itu.
"Dari hasil pemeriksaan mendalam yang dilakukan oleh penyidik dan Propam Polres Karangasem, kami memastikan tidak ada keterlibatan anggota Polri yang merupakan anak kandung salah satu tersangka dalam kasus ini," ujar AKBP Joseph Edward Purba dengan nada serius.
Lebih lanjut, Kapolres menjelaskan bahwa tersangka utama dalam kasus ini memang memiliki tiga orang anak yang turut hadir di Pura Agung Besakih saat kejadian nahas itu berlangsung.
Namun, dari ketiga anaknya tersebut, hanya dua orang yang terbukti terlibat aktif dalam aksi pemukulan terhadap pecalang.
"Anak tersangka yang berprofesi sebagai anggota kepolisian tidak terbukti ikut serta dalam tindakan kekerasan tersebut," tegasnya.
Seperti yang telah ramai diberitakan, tiga pelaku yang kini telah diamankan oleh jajaran Polres Karangasem merupakan satu keluarga yang terdiri dari ayah dan dua anak.
Mereka adalah IGLAED (30), IGLR (56), dan IGNAAP (21).
Pemicu Emosi di Tanah Suci:
Lantas, apa yang sebenarnya memicu aksi brutal ini? Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden bermula dari kesalahpahaman yang terjadi antara korban, seorang pecalang bernama I Nengah Wartawan, dengan salah satu pamedek (umat yang bersembahyang).
Saat itu, korban tengah menjalankan tugasnya mengarahkan pamedek untuk keluar melalui jalur barat di area Bencingah Pura Besakih.
Namun, teguran korban yang meminta pamedek untuk mengikuti jalur yang telah ditentukan justru ditanggapi dengan sinis.
Seorang pamedek melontarkan pertanyaan dalam bahasa Bali: "Joh dong?" (Jauh dong?).