BALIEXPRESS.ID – Gubernur Bali Wayan Koster angkat bicara terkait temuan ratusan pelajar SMP di Kabupaten Buleleng yang mengalami gangguan belajar seperti kesulitan membaca, menulis, dan mengeja, atau yang dikenal dengan istilah disleksia.
Ia mengaku heran dan meminta agar Pemerintah Kabupaten Buleleng segera menelusuri fenomena tersebut secara lebih mendalam.
Baca Juga: Viral! Warga Bali Cegat Bule Rusia Diduga Edarkan Uang Dollar Palsu di Canggu
Fenomena ini sempat mengejutkan publik karena gangguan belajar tersebut ditemukan pada siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama, yang secara usia dan tingkat pendidikan seharusnya sudah menguasai kemampuan dasar calistung (membaca, menulis, dan berhitung).
“Karena ini agak aneh. Ditelusuri lebih lagi, benar apa tidak. Kan sudah melewati kelas VI SD, biasanya kelas III sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung,” ujar Koster saat ditemui di Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja, Rabu (16/4).
Baca Juga: Revelino Klaim Sebagai Ayah Biologis Anak Lisa Mariana, Buka Kronologi Pertemuan dan Bawa Bukti
Sebagai putra daerah asal Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Koster mengaku prihatin dan meminta langsung Bupati I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna untuk segera melakukan investigasi terkait kasus ini.
Data dari Dewan Pendidikan Buleleng menyebutkan ada 60 SMP yang melaporkan siswa dengan gangguan belajar, dengan jumlah total mencapai 443 siswa dari kelas VII hingga IX.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng mencatat data berbeda, yakni 363 siswa dari laporan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).
Baca Juga: Viral! Warga Kompak Serbu Semen Tumpah dari Truk Cor, Langsung Dipakai di Depan Rumah
Dari angka tersebut, 155 siswa tidak bisa membaca sama sekali, sementara 208 siswa tidak lancar membaca.
Meski secara persentase hanya sekitar 0,011 persen dari total 34.062 siswa SMP di Buleleng, temuan ini tetap memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Gubernur Koster pun menilai, jika kasus ini terbukti benar, maka sistem pendidikan dasar, khususnya pembelajaran calistung, harus diperkuat. Ia menegaskan tidak perlu membuat sistem baru, cukup dengan menerapkan sistem yang sudah ada dengan lebih optimal.
Baca Juga: WOW! Tumpukan Uang Rp 50 Tercecer di Jalan, Warga Sigap Bantu Kumpulkan
“Tidak perlu pakai belajar khusus, pakai sistem yang ada saja. Cuma belum diterapkan bagus saja. Jangan-jangan di tempat lain (kabupaten/kota lain) ada juga,” ujar Koster menutup pernyataannya dengan senyum khas.
Editor : Wiwin Meliana