SINGARAJA, BALI EXPRESS - Dari puncak Desa Pegayaman di dataran tinggi Sukasada, sebuah sinyal baru memancar ke seluruh penjuru Bali. Bukan hanya sinyal digital, tetapi sinyal transformasi. Pembangunan awal tower ini dilakukan 23 Juli 2022.
Menginjak tahun ketiga dari pembangunan tower itu, Pemerintah Provinsi Bali juga meresmikan siaran televisi digital dari menara ini, sekaligus menandai babak baru dalam perjalanan komunikasi publik di Pulau Dewata. Peluncuran siaran TV Digital itu dilakukan, Jumat (17/4), oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.
Lebih dari sekadar menara pemancar siaran digital, menara setinggi 115 meter ini menjadi proyek strategis yang membawa misi ganda: teknologi dan pariwisata, dalam satu tarikan nafas.
Siaran digital ini bukan sekadar perpindahan dari analog ke teknologi lebih jernih dan efisien. Ia menjadi bagian integral dari KBS 6.0 – Kerthi Bali Santi, sebuah cetak biru besar pembangunan Bali masa depan yang berakar pada enam pilar: budaya, ekologi, spiritualitas, pendidikan, ekonomi, dan teknologi. Peluncuran siaran digital dari Turyapada Tower menjadi langkah konkret dari pilar digitalisasi dan transformasi informasi publik.
Gubernur Bali, Wayan Koster, mengumumkan bahwa pembangunan tahap pertama menara ini telah rampung. Dengan penuh keyakinan, ia menyebut Turyapada Tower sebagai tonggak penting dalam menghadirkan infrastruktur komunikasi modern, sekaligus daya tarik wisata berkelas dunia di jantung Bali Utara.
"Sebenarnya ingin membangun tower biasa untuk kepentingan siaran saja. Anggarannya saat itu Rp 10 miliar. Lalu timbul pemikiran, kalau hanya bangun tower saja tidak balik modal. Kenapa tidak sekalian saja bangun tower yang sekaligus jadi objek wisata? Maka jadilah ini sekarang," ujar Koster.
Namun, proyek ini bukan berhenti pada infrastruktur komunikasi. Menara ini disiapkan sebagai destinasi wisata modern terpadu. Bayangkan: restoran berputar di lantai 8 yang hanya bisa menampung 20 orang dalam satu waktu—memberi panorama 360 derajat ke arah Buleleng dan Tabanan.
Atau skywalk dari jembatan kaca di lantai 9, mengambang di udara dengan latar Danau Buyan dan Beratan. Sementara itu, planetarium mini dan museum digital akan menghadirkan edukasi dalam balutan pengalaman visual canggih.
Tiap lantai punya kisahnya sendiri: dari lobby yang menyambut pengunjung, area UMKM dan perpustakaan di lantai dasar, ruang pertemuan, pusat transmisi, hingga kafetaria dan restoran statis. Di luar menara, kawasan ini akan dilengkapi dengan glamping, taman bunga, dan taman buah—menawarkan kombinasi antara petualangan dan ketenangan.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menyampaikan bahwa peluncuran ini bukan hanya bentuk peningkatan layanan informasi bagi masyarakat Bali, tetapi juga penguatan kedaulatan penyiaran di tingkat lokal.
Melalui siaran digital dari Turyapada Tower, pemerintah dapat mengintegrasikan konten-konten yang berpihak pada budaya Bali, pendidikan karakter, pariwisata berkelanjutan, hingga ekonomi kerakyatan.
"Dari hitungan laporan tim ahli kira-kira menjangkau 90 persen. Melebihi target dari studi kelayakan yang saat itu 80 persen. Bahkan siaran ini bisa menjangkau sampai kelurahan Gilimanuk, kecamatan Melaya, Jembrana," imbuhnya.
Dalam praktiknya, menara ini akan menjadi rumah bagi siaran berbagai kanal digital, baik yang dikelola langsung pemerintah maupun swasta yang berbasis lokal. Dengan bentuk menyerupai bunga teratai (lotus) yang sarat makna dalam filosofi Bali, menara ini dibangun di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut.
Ini juga menjamin akses informasi yang lebih merata, bahkan ke pelosok-pelosok Bali, NTB, dan Jawa Timur—sesuatu yang selama ini menjadi tantangan berat dalam sistem analog.
"Viva grup juga sudah menggunakan pemancar ini. Metro tv, TVRI dan Nusantara tv. Sehingga 30 Chanel tv yang ada di Bali menggunakan pemancar dari turyapada. Jadi tidak perlu lahan lagi. Hanya menggunakan ini. 6 bulan uji coba gratis, setelahnya bayar. Ini akan jadi sumber PAD Pemprov Bali," kata dia.
Namun di balik narasi kemajuan ini, ada pertanyaan penting yang tidak boleh diabaikan: seberapa inklusif konten siaran yang dihasilkan? Apakah ia hanya akan menjadi wadah bagi propaganda pemerintah, atau justru ruang baru bagi tumbuhnya jurnalisme lokal yang kritis, edukatif, dan berakar pada suara rakyat Bali?
Lebih lanjut, proyek ini pun sejalan dengan ambisi menara Turyapada sebagai pusat wisata dan edukasi digital. Dengan adanya museum digital, planetarium mini, dan integrasi teknologi komunikasi modern, menara ini diharapkan menjadi pusat pengetahuan dan media kreatif baru, bukan hanya bagi turis tapi juga bagi generasi muda Bali.
" Ini akan dikelola secara profesional oleh menejemen. Pajak hotel restoran akan jadi sumber PAD Buleleng. Kawasan ini akan jadi pusat pertumbuhan ekonomi baru," lanjutnya.
Tapi tak ada pembangunan tanpa resiko. Di tengah gegap gempita teknologi, pemerintah pun mengingatkan agar masyarakat sekitar tidak tergoda menjual lahan mereka. Turyapada Tower membawa nilai ekonomi, ya, tapi juga potensi gentrifikasi (perubahan status sosial masyarakat). Maka perlu ada kebijakan afirmatif agar masyarakat lokal tetap menjadi subjek, bukan korban dari pembangunan
"Tidak ada yang jual lahan di sini. Jangan sampai lahannya dijual dan masyarakat jadi penonton," ujar Koster.
Dengan anggaran tambahan Rp 270 miliar dari APBD 2025, pembangunan kawasan penunjang akan dilanjutkan hingga 2026. Jika dikelola dengan transparan dan melibatkan publik, Turyapada Tower bisa menjadi wajah baru Bali Utara—bukan hanya cantik di mata wisatawan, tetapi juga kuat dalam memperkuat akses informasi, pendidikan, dan partisipasi warga.
Peluncuran siaran televisi digital dari Turyapada Tower seharusnya tidak hanya dibaca sebagai gebrakan teknologi. Tapi sebagai panggilan untuk membangun Bali yang cerdas secara informasi, berdaulat dalam narasi, dan tetap kokoh berpijak pada nilai-nilai lokal yang menjadi identitas sejati pulau Bali. ***
Editor : Dian Suryantini