Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Panen Raya Padi di Jembrana Bikin Petani Khawatir, Harga Gabah Merosot Rp 6.500 Per Kilogram

I Gde Riantory Warmadewa • Senin, 21 April 2025 | 01:24 WIB
Seorang petani memilih memanen sendiri tananman padinya, Sabtu (19/4/25).
Seorang petani memilih memanen sendiri tananman padinya, Sabtu (19/4/25).

BALIEXPRESS.ID - Panen raya padi di Kabupaten Jembrana, Bali, yang semestinya menjadi kabar gembira, kini justru membawa tantangan bagi para petani setempat.

Harga gabah yang merosot di bawah Rp 6.500 per kilogram, ditambah dengan kekurangan tenaga pemanen, menjadi dua masalah utama yang mereka hadapi.

 

I Wayan Sadra (68), seorang petani dari Subak Tibubeleng, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, mengungkapkan keresahannya. Meskipun hasil panen melimpah, proses pemanenan menjadi kendala utama. "Sulit mendapatkan tenaga potong padi, dan harga gabah jatuh di bawah Rp 6.500. Saya terpaksa memanen sendiri dan nanti menjualnya sebagai beras," katanya pada Sabtu (19/4/2025).

 

Sadra bukanlah satu-satunya yang menghadapi dilema ini. Petani lain di Jembrana juga merasakan dampaknya, dengan banyak dari mereka memilih untuk memanen secara mandiri dan berharap mendapatkan keuntungan lebih dengan menjual beras.

Situasi semakin diperparah dengan kondisi penundaan panen yang mengancam kualitas padi. "Padi tetangga saya sudah merusak karena terlambat dipanen, menyebabkan kerugian," lanjut Sadra.

 

Selain kekurangan tenaga kerja untuk memanennya, petani juga dibebani dengan harga gabah rendah yang memaksa mereka mencari alternatif lain. "Kalau gabah dijual begitu saja harganya pasti murah. Banyak yang bingung dengan alur menjual ke bulog," keluh Nengah Widi, petani lainnya.

 

I Putu Sentana, Ketua Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Jembrana, mengakui adanya masalah ini. Ia menyebut bahwa panen raya menyebabkan kesulitan bagi petani dalam menjual gabah mereka sementara tenaga pemanen juga langka. "Kami sulit mendapatkan tenaga potong. Harga standar Rp 6.500, tetapi kondisi di lapangan tidak pasti," ujar Sentana.

 

Kondisi ini menuntut ketahanan dan kreativitas dari para petani Jembrana dalam menangani surplus panen yang sejatinya bisa menjadi berkah, namun justru menjadi tantangan besar. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#padi #Merosot #khawatir #gabah #panen raya #harga #jembrana