Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Candi Dieng, Jejak Peradaban Hindu-Budha tertua di Tanah Jawa, Ditemukan dalam Kondisi Tergenang Air

I Putu Mardika • Jumat, 25 April 2025 | 20:49 WIB

Kompleks percandian di Dieng yang merupakan candi berusia paling tua di tanah Jawa
Kompleks percandian di Dieng yang merupakan candi berusia paling tua di tanah Jawa
BALIEXPRESS.ID – Kompleks Candi Dieng yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, merupakan salah satu peninggalan penting dari peradaban Hindu-Buddha di Nusantara.

Keberadaan candi-candi ini menjadi bukti kemajuan kebudayaan Indonesia pada masa lalu, khususnya pada periode abad ke-7 hingga ke-9 Masehi.

Candi Dieng termasuk dalam jajaran candi tertua di Indonesia dan hingga kini masih lestari serta menjadi magnet wisata sejarah dan spiritual.

Dibangun pada masa Kerajaan Kalingga yang diperintah oleh Dinasti Wangsa Sanjaya, Candi Dieng merupakan manifestasi arsitektur keagamaan Hindu sekte Siwa.

Keaslian dan kekunoan situs ini diperkuat dengan penemuan prasasti bertahun 809 M yang diduga berasal dari masa Dinasti Syailendra.

Penamaan candi-candi di kompleks ini diambil dari tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan, seperti Arjuna, Semar, Srikandi, dan Bima.

Kompleks Candi Dieng terbagi ke dalam tiga kelompok utama. Kelompok pertama adalah Candi Arjuna yang terdiri atas Candi Arjuna, Srikandi, Sembadra, Puntadewa, dan Semar.

Di kelompok kedua terdapat Candi Gatotkaca, Setyaki, Nakula, Sadewa, Petruk, dan Gareng. Sedangkan kelompok ketiga adalah Candi Dwarawati bersama Abiyasa, Pandu, dan Margasari.

Meski demikian, saat ini hanya sekitar sembilan bangunan candi yang tersisa dan dapat disaksikan secara langsung.

Sejak tahun 1994, kompleks ini resmi dijadikan sebagai destinasi wisata budaya. Pengelolaannya sempat dilakukan bersama oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo, hingga akhirnya pada tahun 2015 dikelola sepenuhnya oleh UPT KWDT Dieng di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara.

Sejumlah lokasi wisata lain yang masuk dalam pengelolaan ini antara lain Kawah Sikidang, Sumur Jalatunda, Telaga Merdada, Kawah Candradimuka, dan Museum Kailasa.

Candi Dieng tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, namun juga menjadi tempat sembahyang bagi umat Hindu dari Bali.

Tiga kali dalam setahun, beberapa sekte dari komunitas Hindu-Bali melakukan ritual persembahyangan di kawasan Candi Arjuna maupun Candi Dwarawati.

Aktivitas ini dilaksanakan secara terbatas sesuai dengan prosedur perizinan dari pengelola, dan umumnya berlangsung selama beberapa jam.

Sejumlah artefak penting seperti arca dan bagian candi yang berhasil ditemukan telah ditempatkan di Museum Kailasa yang berada tidak jauh dari Candi Gatotkaca.

Beberapa lainnya masih tersimpan di sekitar area candi untuk memperkaya narasi visual bagi para pengunjung.

Menariknya, Candi Dieng awalnya ditemukan dalam keadaan tergenang air. Saat tentara Inggris H.C. Cornelius berkunjung ke dataran Dieng pada 1814, kawasan tersebut masih berupa danau besar yang menenggelamkan bangunan-bangunan candi.

Baru pada 1856, J. Van Kinsbergen mengalirkan air keluar dari area tersebut dan mendokumentasikan candi-candi yang berhasil diselamatkan.

Penggalian dan dokumentasi lanjutan dilakukan oleh H.L. Melville pada tahun 1911–1916, dan diteruskan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Proses ekskavasi dan konservasi ini menjadi titik awal pelestarian warisan budaya yang kini kita kenal sebagai Candi Dieng.

Sayangnya, sebagian besar struktur candi telah rusak akibat terlalu lama berada dalam rendaman air dan hanya menyisakan pondasi.

Secara geografis, candi-candi di kompleks Dieng tidak seluruhnya terletak berdekatan, kecuali kelompok Candi Arjuna.

Empat dari lima candi dalam kelompok ini menghadap ke arah barat, sementara Candi Semar justru berhadapan langsung dengan Candi Arjuna.

Di lokasi lain, Candi Gatotkaca terletak di kaki Bukit Panggonan, sedangkan Candi Dwarawati berada di sebelah utara dekat Bukit Prahu, dan Candi Bima di ujung selatan kawasan.

Dataran Tinggi Dieng sendiri merupakan bekas dasar danau yang terbentuk akibat letusan gunung api purba.

Sedimentasi yang terjadi dengan cepat menyebabkan air surut dan membentuk dataran.

Letaknya yang berada pada ketinggian sekitar 2093 meter di atas permukaan laut menjadikan Candi Dieng sebagai kompleks candi tertinggi di Indonesia.

Meskipun secara administratif banyak yang mengira Candi Dieng masuk wilayah Wonosobo, namun lokasi sebenarnya berada di Karangsari, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Titik koordinat geografisnya adalah 7°12'18.3"S 109°54'24.6"E. Kesalahan persepsi ini sering terjadi akibat jalur masuk utama ke Dieng yang lebih mudah diakses melalui Wonosobo.

Candi Dieng bukan sekadar situs purbakala yang menyimpan kisah masa silam, tetapi juga representasi dialog antara warisan budaya, spiritualitas, dan pariwisata modern.

Dengan nilai sejarah dan fungsi religi yang masih hidup hingga kini, kompleks candi ini menjadi salah satu contoh harmonisasi antara pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya.

Pemerintah dan masyarakat pun diharapkan terus menjaga dan mengembangkan kawasan ini secara berkelanjutan. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Kerajaan Kalingga #hindu buddha #Candi Dieng #candi #semar #bima #srikandi #nusantara #sekte #jawa tengah #hindu #arjuna #siwa