Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dari Budaga untuk Dunia, I Wayan Budiarta Jaga Warisan Genta Tradisional Bali, Butuh Dukungan Pemerintah Daerah

I Dewa Gede Rastana • Senin, 28 April 2025 | 20:14 WIB
WARISAN BUDAYA : I Wayan Budiarta, seorang pengerajin genta asal Banjar Budaga, Desa Adat Budaga, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung.
WARISAN BUDAYA : I Wayan Budiarta, seorang pengerajin genta asal Banjar Budaga, Desa Adat Budaga, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung.

BALIEXPRESS.ID — Komitmen melestarikan warisan leluhur terus ditunjukkan oleh I Wayan Budiarta, seorang pengerajin genta asal Banjar Budaga, Desa Adat Budaga, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung. Bertempat di Jalan Kamboja Nomor 10, Budiarta meneruskan usaha kerajinan genta yang dirintis oleh ibunya sejak 1980, menjadikannya generasi kedua dalam tradisi ini.

Sejak 2005, Budiarta rutin memproduksi sekitar 50 genta setiap bulan. Proses pembuatannya melibatkan teknik pencetakan dan pengecoran menggunakan bahan-bahan seperti perunggu, kuningan, perak, hingga emas. Bahan baku ini dipanaskan menggunakan arang kayu dan batok kelapa selama kurang lebih satu jam hingga mencair dan siap dicetak.

“Kalau bahan bakunya bagus, hasilnya juga bagus. Genta yang baik itu suaranya panjang,” ujar Budiarta saat ditemui di kediamannya, Senin (28/4/2025).

Genta hasil karyanya tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari diameter 6 cm hingga 11 cm. Harga jual pun bervariasi, antara Rp800 ribu hingga Rp3 juta, tergantung pada ukuran dan permintaan konsumen. Penjualan dilakukan secara langsung dari rumah, serta melalui pemesanan via telepon dan WhatsApp.

Budiarta mengungkapkan, dahulu dirinya kerap menerima banyak pesanan dari luar negeri, terutama dari Amerika Serikat, di mana genta buatannya digunakan untuk keperluan meditasi. Namun, permintaan ekspor menurun tajam sejak pecahnya perang Irak.

Saat ini, tantangan utama yang dihadapi adalah fluktuasi harga bahan baku, yang sangat dipengaruhi oleh nilai tukar dolar Amerika Serikat. Bahan-bahan tersebut sebagian besar harus didatangkan dari Pulau Jawa, sehingga perubahan kurs berdampak langsung pada biaya produksi.

Kendati demikian, Budiarta menyatakan selama ini belum pernah menerima keluhan dari pembeli. Ia bahkan memberikan garansi selama dua hingga tiga bulan untuk setiap genta yang dijual.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih, terutama dalam hal dukungan pemasaran dan kemudahan penyediaan bahan baku, agar tradisi kerajinan genta yang bernilai budaya tinggi ini tetap lestari. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#Genta #warisan #umkm #klungkung #tradisional