Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mendiang Ketut Redi Mustika, Sosok Guru Agama yang Selalu Membawa Tawa di Sekolah

Dian Suryantini • Kamis, 1 Mei 2025 | 03:39 WIB

Mendiang Ketut Redi dibawa ke rumah duka setelah ditemukan di pinggir pantai.
Mendiang Ketut Redi dibawa ke rumah duka setelah ditemukan di pinggir pantai.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Suasana duka menyelimuti keluarga besar SD Negeri 1 Kubutambahan, Buleleng. Salah satu guru mereka, I Ketut Redi Mustika (41), ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengambang di Pantai Banyuning pada Selasa (30/4/2025) siang.

Ketut Redi Mustika diketahui merupakan guru mata pelajaran Agama Hindu di sekolah tersebut. Ia diduga meninggal akibat terpeleset saat hendak melukat di Pura Segara Banyuning.

Jenazah pria yang dikenal bersahaja ini pertama kali ditemukan warga dalam kondisi mengambang di laut. Informasi ini sontak mengejutkan para rekan guru dan murid-murid di SDN 1 Kubutambahan, tempat almarhum mengajar sejak 2015.

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala SDN 1 Kubutambahan, Putu Yuli Krisniati, mengungkapkan bahwa almarhum selama ini dikenal sebagai pribadi yang hangat, ceria, dan penuh semangat dalam menjalankan tugasnya.

“Kalau Pak Redi ada, suasana sekolah itu jadi hidup. Apalagi kalau siang hari waktu istirahat, suka ramai dengan candaannya,” ujar Krisniati.

Baca Juga: Hendak Melukat, Seorang Guru Tewas Tenggelam di Pantai Banyuning

Namun, sejak awal tahun 2025, sikap almarhum mulai berubah. Ia menjadi lebih pendiam dan terlihat menutup diri dari lingkungan sekitar. Ia juga tampak kehilangan semangat untuk mengajar, disertai kondisi tubuh yang semakin kurus.

“Kami sempat berpikir beliau sedang punya masalah pribadi atau mungkin sedang sakit. Beliau pernah bilang punya masalah asam lambung. Tapi saat kami coba dekati, beliau tidak mau bercerita banyak,” lanjut Krisniati.

Tragisnya, pada hari kejadian, almarhum sempat menghubungi rekan-rekannya melalui video call. Dalam percakapan itu, ia menyampaikan bahwa tidak bisa hadir ke sekolah karena hendak mencari dokter di sekitar wilayah Banyuning.

Tak lama berselang, kabar mengejutkan datang. Ketut Redi Mustika ditemukan meninggal dunia. Kejadian itu berlangsung dalam rentang waktu 1-2 jam setelah komunikasi terakhirnya dengan para guru di sekolah.

Kabar meninggalnya Ketut Redi Mustika juga dibenarkan oleh Kasi Humas Polres Buleleng, AKP Gede Darma Diatmika. Ia menyampaikan bahwa pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kematian.

“Berdasarkan keterangan beberapa saksi, mendiang sempat berpamitan untuk melukat. Dugaan sementara, beliau terpeleset dan terseret arus saat melakukan ritual,” jelas AKP Diatmika.

Selain itu, pihak keluarga menyebutkan bahwa Ketut Redi sempat meninggalkan pesan terakhir melalui aplikasi WhatsApp. Dalam pesannya, almarhum berwasiat agar jenazahnya dikremasi di Petunon Setra, Desa Adat Buleleng.

Menanggapi hal tersebut, polisi menyatakan bahwa pesan terakhir tersebut akan menjadi bagian dari proses penyelidikan.

“Kami akan mendalami pesan yang ditemukan di ponsel almarhum untuk memastikan konteks dan kebenarannya,” tambah AKP Diatmika.

Kepergian Ketut Redi Mustika meninggalkan duka yang dalam, bukan hanya bagi keluarga, tapi juga para murid dan rekan sejawat yang selama ini mengenalnya sebagai sosok yang berdedikasi. Kini, kenangan akan semangat dan keceriaannya akan selalu hidup di hati mereka. ***

Editor : Dian Suryantini
#agama Hindu #video call #guru #asam lambung #kubutambahan #sd #laut #Banyuning