Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kabar Gembira! Akademisi Undiksha Luncurkan TrikaIndoDyslexic, Font Khusus untuk Anak Disleksia

I Putu Mardika • Minggu, 4 Mei 2025 | 01:37 WIB

Ketut Trika Adi Ana, M.Pd, saat menunjukkan font khusus bernama TrikaIndoDyslexic yang dirancang untuk membantu anak-anak dengan disleksia visual.
Ketut Trika Adi Ana, M.Pd, saat menunjukkan font khusus bernama TrikaIndoDyslexic yang dirancang untuk membantu anak-anak dengan disleksia visual.
BALIEXPRESS.ID-Dunia pendidikan inklusif Indonesia mendapat kabar menggembirakan di momen peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Seorang akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), I Ketut Trika Adi Ana, mempersembahkan inovasi terbaru: sebuah font khusus bernama TrikaIndoDyslexic yang dirancang untuk membantu anak-anak dengan disleksia visual.

Inovasi ini menjadi angin segar bagi dunia literasi, khususnya bagi anak-anak yang mengalami kesulitan membaca akibat disleksia.

TrikaIndoDyslexic merupakan hasil riset panjang yang menggabungkan ilmu pendidikan, desain grafis, dan neuropsikologi belajar.

Font ini dikembangkan secara khusus untuk mengatasi tantangan yang kerap dihadapi anak-anak disleksia dalam mengenali bentuk huruf.

Font TrikaIndoDyslexic didesain dengan pendekatan mnemonic, sebuah metode pembelajaran yang mengandalkan asosiasi visual untuk mempermudah proses kognitif.

Konsep ini memungkinkan anak-anak untuk mengaitkan huruf dengan bentuk atau benda yang mudah diingat, sehingga memperkuat memori visual mereka saat membaca maupun menulis.

Sebagai ilustrasi, huruf ‘b’ dalam font ini dibuat menyerupai bentuk “perut besar” agar mudah dibedakan dari huruf ‘d’, yang digambarkan seperti “daun”.

Begitu pula dengan huruf ‘p’ dan ‘q’ yang selama ini sering tertukar—font ini memberikan putaran unik pada ‘p’ dan bentuk sederhana pada ‘q’, sehingga keduanya terlihat berbeda secara signifikan.

Menurut Trika, pendekatan visual seperti ini penting karena disleksia bukanlah ketidakmampuan belajar, melainkan perbedaan cara otak memproses informasi.

"Anak-anak dengan disleksia memiliki potensi luar biasa. Mereka hanya perlu pendekatan pembelajaran yang sesuai, dan font ini menjadi salah satu jembatan untuk itu," ungkapnya saat peluncuran font di kampus Undiksha.

Font ini juga dirancang untuk mudah diakses. TrikaIndoDyslexic dapat langsung diinstal ke Microsoft Word hanya dengan satu klik.

Inovasi ini mempermudah para guru, orang tua, dan siswa dalam mengintegrasikan font ke dalam materi pembelajaran tanpa perlu keahlian teknis.

Peluncuran font ini dinilai sangat tepat waktu, mengingat pentingnya pengarusutamaan pendidikan inklusif di Indonesia. Data dari Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus, termasuk disleksia, masih menghadapi hambatan dalam mengakses materi ajar yang sesuai.

Trika berharap font ini dapat digunakan secara luas di sekolah-sekolah, terutama di jenjang pendidikan dasar. Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas disleksia untuk memperluas pemanfaatan font ini di berbagai daerah.

Tak hanya untuk siswa, font ini juga diyakini dapat menjadi alat bantu bagi guru dalam menyusun materi ajar yang lebih inklusif.

Guru dapat menyisipkan font ini dalam lembar kerja, buku teks, hingga presentasi kelas untuk memfasilitasi pemahaman siswa disleksia.

Dosen muda Undiksha ini menegaskan bahwa inovasi font ini bukan semata-mata produk teknologi, melainkan wujud komitmen terhadap hak pendidikan yang setara.

“Hari Pendidikan Nasional adalah momen refleksi. Kita harus memastikan bahwa setiap anak, termasuk yang disleksia, mendapat kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang,” tegas Trika.

Peluncuran TrikaIndoDyslexic menandai langkah penting menuju pendidikan yang lebih ramah disabilitas. Dengan kombinasi teknologi, empati, dan ilmu pengetahuan, inovasi ini membuka jalan baru dalam memperkuat literasi dan keadilan pendidikan di Indonesia. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#hari pendidikan nasional #disleksia #anak anak #TrikaIndoDyslexic #Ketut Trika Adi Ana #hardiknas #pendidikan