SINGARAJA, BALI EXPRESS – Malam itu sunyi. Listrik padam menyelimuti kawasan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Tak ada yang menyangka, kegelapan itu akan menjadi saksi bisu sebuah tragedi memilukan yang merenggut nyawa seorang pemuda bernama Kadek Adi Wijaya (24), warga Banjar Dinas Gambuh, Desa Selat.
Sabtu dini hari, 3 Mei 2025, sekitar pukul 01.00 WITA, tubuh Kadek ditemukan tergeletak tak bernyawa di kawasan Perumahan Grand Lovina, Desa Kalibukbuk. Darah mengalir dari kepala bagian kiri, membasahi aspal yang dingin. Wajahnya pucat.
Sebelum tragedi itu, Kadek sempat pamit kepada keluarganya. Jumat (2/5) malam, saat rumahnya gelap gulita karena listrik belum juga menyala hingga pukul 23.00 WITA, Kadek gelisah. Kadek sempat berkata ingin jalan-jalan, melepas penat. Tujuannya, diduga hendak mengunjungi rumah kakeknya yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya, di Perumahan Griya Mesari Lovina.
Namun keluarga merasa ada yang janggal. Mereka menahan Kadek agar tak keluar rumah malam itu. Bahkan kunci sepeda motor disembunyikan. Tapi Kadek tetap bersikeras. Ia memilih berjalan kaki, tanpa membawa apa pun—tak ada dompet, uang, bahkan ponsel. Ia hanya mengenakan kaos dan celana pendek.
Beberapa saat, Kadek tidak ada kabar. Itulah terakhir kalinya keluarga melihat Kadek hidup. Jenazah Kadek ditemukan oleh seorang warga bernama I Gusti Lanang Gede Yasa. Ia keluar rumah karena mendengar gonggongan anjing yang tak biasa. Saat diperiksa, betapa terkejutnya ia melihat sesosok pria muda tergeletak di pinggir jalan, dengan darah mengucur dari bagian kepala. Tubuh itu tak membawa satu pun identitas.
Warga sontak geger. Polisi datang dan membawa jenazah ke RSUD Buleleng. Awalnya, polisi menyimpulkan pria itu sebagai Mr. X. Namun tak lama, proses identifikasi mengungkapkan bahwa pria malang itu adalah Kadek Adi Wijaya.
Duka mendalam menyelimuti keluarga. Apalagi, Kadek baru saja menikah. Istrinya kini tengah mengandung enam bulan. Harapan akan hidup bahagia bersama anak pertama kini berubah menjadi kehilangan yang pahit dan penuh tanya.
Dari hasil pemeriksaan sementara, ditemukan luka lecet di lutut dan lengan kanan korban, namun luka tersebut sudah mulai mengering dan diduga luka lama. Luka paling serius berada di kepala sebelah kiri—luka yang diduga kuat akibat hantaman benda tumpul.
“Apakah luka ini akibat kekerasan atau kecelakaan, kami masih menunggu hasil autopsi dari tim forensik,” ujar Kasi Humas Polres Buleleng, AKP Gede Darma Diatmika, pada Senin (5/5).
Ia menegaskan bahwa pihaknya belum bisa menyimpulkan apakah Kadek menjadi korban pembunuhan. Hingga kini, penyelidikan masih berjalan, dengan lima orang saksi telah diperiksa—baik dari pihak keluarga maupun warga sekitar lokasi kejadian.
Suasana di sekitar lokasi kejadian saat malam itu juga tak menunjukkan tanda-tanda keributan. Seorang warga yang tinggal dekat TKP mengaku baru sampai rumah pukul 23.30, dan bahkan masih sempat sembahyang hingga pukul 00.30 dini hari.
“Saat itu saya tidak mendengar suara apa pun. Baru tahu ada mayat setelah warga ramai sekitar jam 1 lebih,” katanya.
Minimnya saksi dan belum adanya rekaman CCTV membuat penyelidikan kian rumit. Bahkan, pihak kepolisian mengakui belum menemukan barang bukti di sekitar TKP.
“Korban ini memang sering jalan kaki kalau keluar rumah. Tapi soal apakah ia mengalami tekanan atau depresi, kami belum mendapat informasi yang pasti. Semua masih kami dalami,” tambah Diatmika.
Kini, harapan keluarga hanya satu, misteri kematian Kadek Adi segera terungkap. Bukan hanya demi keadilan, tapi demi menenangkan hati seorang istri yang ditinggal dalam keadaan mengandung anak yang belum sempat mengenal ayahnya. Sementara itu, polisi terus mengumpulkan potongan-potongan informasi. ***
Editor : Dian Suryantini