Cerita di Balik Tewasnya Komang Juliartawan Akibat Dikeroyok 3 Oknum Anggota TNI dalam Perjalanan Denpasar-Buleleng
I Putu Suyatra• Kamis, 8 Mei 2025 | 20:12 WIB
UPDATE KASUS: Kapendam IX/Udayana, Kolonel Inf Candra, S.E., M.I.Pol., berikan penjelaskan, Rabu 7 Mei 2025. (Humas Kodam IX Udayana untuk radarbali.jawapos.com)
BALIEXPRESS.ID - Sebuah kasus tragis dengan latar belakang penipuan, judi, dan main hakim sendiri menggemparkan Bali! Komang Juliartawan alias Basir (31) meregang nyawa di tangan tiga oknum prajurit Yonif 900/SBW Kodam IX/Udayana, dan ternyata, pemicunya adalah sebuah unit motor yang digelapkan demi memuaskan hasrat berjudi tejen.
Fakta mengejutkan ini terungkap setelah penyelidikan mendalam terkait kematian Basir yang awalnya dilaporkan terjadi saat perjalanan dari Denpasar menuju Buleleng pada Minggu (4/5/2025).
Sumber terpercaya mengungkapkan kepada radarbali.jawapos.com (7/5/2025) bahwa insiden berdarah ini bermula dari tindak pidana penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh Basir terhadap ibu kandung dari Prada I Putu Agus Herry Artha Wiguna alias Agus, salah satu pelaku pengeroyokan.
Modus Pinjam Motor untuk Beli Rokok Berujung Penggadaian:
Bak musang berbulu domba, Basir datang meminjam sepeda motor jenis Honda Scoopy bernopol DK 6426 AAB milik ibunda Prada Agus pada Sabtu (26/4/2025) sekitar pukul 16.00 WITA.
Alasannya sederhana: untuk membeli rokok. Namun, kepercayaan yang diberikan justru dikhianati.
Prada Agus yang berusaha mencari keberadaan Basir dan motor ibunya hingga beberapa hari, akhirnya mendapat informasi dari seorang saudara bernama Yogi pada Sabtu (4/5/2025) malam.
Basir ternyata berada di lokasi sabung ayam atau tajen dan telah diamankan. Ironisnya, motor curian itu sudah digadaikan, dan uangnya ludes untuk berjudi.
Mendengar pengakuan Basir yang menyakitkan hati, Prada Agus bersama Sertu Kadek Susila Yasa dan Pratu Muhammad Rangga bergegas menuju Denpasar menggunakan mobil pribadi pada tengah malam.
Tujuan mereka adalah menjemput Basir di GOR I Gusti Ngurah Rai Denpasar dan membawanya menghadap orang tua Prada Agus di Buleleng.
Setibanya di GOR sekitar pukul 02.00 WITA, sempat terjadi interogasi.
Namun, kekesalan yang memuncak akibat perbuatan Basir membuat ketiga prajurit tersebut gelap mata dan langsung mengeroyok korban.
Penganiayaan Sadis Sepanjang Perjalanan hingga Meregang Nyawa
Kekerasan tak berhenti di GOR. Sumber mengungkapkan bahwa sepanjang perjalanan dari Denpasar menuju Singaraja, Basir terus dianiaya.
Bahkan, saat meminta turun untuk buang air kecil, Basir mencoba melarikan diri, yang justru semakin memicu amarah ketiga pelaku.
Mereka kembali melakukan pengeroyokan brutal, termasuk memukul korban berkali-kali menggunakan selang di bagian punggung.
Nahas, sekitar pukul 05.00 WITA, saat memasuki wilayah Buleleng, Basir mengeluh sesak nafas.
Kapendam IX/Udayana, Kolonel Inf Candra, S.E., M.I.Pol., membenarkan adanya laporan dan penangkapan tiga oknum anggota Yonif 900/SBW dengan inisial Sertu K.S.Y, Pratu M.R, dan Prada P.A.H pada hari yang sama.
Kodam IX/Udayana Tegaskan Komitmen Supremasi Hukum
Kapendam IX/Udayana menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir segala bentuk pelanggaran, terlebih yang mencoreng nama baik institusi TNI.
Ketiga pelaku saat ini telah diamankan dan menjalani penyidikan intensif oleh Subdenpom IX/3-1 Singaraja sesuai prosedur hukum yang berlaku.
"Tindakan cepat dan tegas telah kami ambil, dan kami terus berkoordinasi dengan pihak berwenang guna memastikan proses hukum berjalan secara adil dan obyektif," tegas Kolonel Inf Candra.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk mempercayakan penanganan kasus ini kepada aparat penegak hukum.
Tragedi ini menjadi ironi yang menyakitkan. Niat mencari keadilan atas tindakan penipuan dan penggelapan justru berujung pada tindakan main hakim sendiri yang menghilangkan nyawa seseorang.