Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cerita Keluarga Korban Pembunuhan 3 Oknum TNI di Bali Ungkap Luka Mendalam: Seperti Menyiksa Anjing!

I Putu Suyatra • Sabtu, 10 Mei 2025 | 17:22 WIB

TUNTUT KEADILAN: Komang Juliartawan alias Komang Basir, semasa hidup. Dia tewas karena disiksa oknum prajurit TNI. (Radar Buleleng)
TUNTUT KEADILAN: Komang Juliartawan alias Komang Basir, semasa hidup. Dia tewas karena disiksa oknum prajurit TNI. (Radar Buleleng)

BALIEXPRESS.ID - Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Komang Juliartawan alias Basir (39), warga Desa Sepang, Kabupaten Buleleng, Bali, korban pembunuhan keji yang diduga dilakukan oleh tiga oknum anggota TNI.

Keluarga tak kuasa menahan pilu atas peristiwa tragis yang merenggut nyawa sosok yang dikenal ceria dan supel tersebut.

Pantauan di rumah duka pada Jumat (9/5/2025), suasana haru masih terasa kental.

Keluarga tampak mempersiapkan rangkaian upacara adat nyolasin yang akan berlangsung hingga Selasa (13/5/2025), meskipun mendiang Basir telah dikebumikan pada Selasa (6/5/2025) lalu.

Baca Juga: Diduga Tukar Helm di Parkiran Hotel, Aksi Oknum Driver Ojol Terekam CCTV di Sanur

Kesibukan para ibu menganyam busung untuk sarana upakara menjadi gambaran betapa terpukulnya keluarga besar.

Kenangan Sosok Ceria Berujung Tragis

Di mata keluarga, mendiang Komang Basir adalah sosok yang menyenangkan dan mudah bergaul.

Hobinya berkaraoke menjadi salah satu ciri khasnya. Sehari-hari, ia mencari nafkah sebagai buruh tani, mengandalkan keahliannya mengarit dan memetik cengkeh.

"Setelah Umanis Galungan (Kamis, 24/4/2025) terakhir terlihat di rumah. Setelah itu sudah putus kontak. Kami kira dia lancong (berkunjung) ke rumah teman, atau kemana. Waktu Kuningan juga tidak pulang. Memang agak jarang tidur di rumah," ungkap Nengah Murid, ibunda almarhum, dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga: Menteri HAM Dukung Pendidikan Barak Militer Ala Dedi Mulyadi: Solusi Generasi 'Begadang' Demi Indonesia Emas 2045?

Kabar Mengejutkan: Motor Digadai dan Telepon Tengah Malam

Hampir seminggu tanpa kabar, keluarga dikejutkan dengan berita bahwa Basir menggadaikan sepeda motor milik orang tua Prada PAH, seorang prajurit TNI AD yang bertugas di Batalyon Infanteri Raider 900/Satya Bhakti Wirottama.

Nengah Murid dan putrinya, Ketut Juniari, segera mendatangi rumah orang tua Prada PAH pada Sabtu (3/5/2025) untuk meminta maaf dan berjanji mengganti kerugian.

Keluarga Prada PAH memberikan waktu seminggu untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Keesokan harinya, Minggu (4/5/2025) pukul 19.22 WITA, Prada PAH menghubungi Juniari dan mengabarkan bahwa motor telah ditemukan di Pupuan.

Ia meminta transfer uang Rp 2,2 juta untuk penebusan. Tanpa menunda, Juniari mengirimkan uang tersebut dan menerima foto motor sebagai bukti penebusan.

Namun, kejanggalan mulai terasa pada Senin (5/5/2025) dini hari.

Baca Juga: Bongkar Rahasia Pura 'Sakti' di Tabanan: Bukan Sekadar Tempat Sembahyang Biasa bagi Umat Hindu Bali! Konon Bisa Beri Kekuatan Magis Hingga Kekebalan!

Pukul 03.46 WITA, Prada PAH menelepon Juniari, mengklaim telah menemukan Basir. Karena tertidur, Juniari baru menyadari panggilan tersebut pukul 05.54 WITA.

Jawaban Janggal dan Kabar Pahit dari Rumah Sakit

Pagi itu, Juniari segera menghubungi Prada PAH, namun telepon diangkat oleh Sertu KSY.

"Waktu itu dibilang kakak saya masih tidur di kosan di daerah Singaraja. Dari sana (Sertu KSY) juga sempat tanya, kakak saya ini mau diantar pulang atau dijemput. Saya bilang mau hubungi keluarga di kampung dulu karena posisi saya waktu itu ada di Denpasar," cerita Juniari dengan nada getir.

Juniari kemudian menghubungi kakaknya yang lain, Gede Kamar Yasa, di Desa Sepang.

Gede Kamar bergegas menuju Singaraja sekitar pukul 08.00 WITA untuk menjemput Basir.

Baca Juga: Kisah Mistis Pura Penjaga Bali: Satu Palinggih, Kekuatan Gaib Tak Terduga! Berani Abaikan, Siap-Siap Merinding!

Namun, tak lama kemudian, sekitar pukul 09.00 WITA, Gede Kamar menerima telepon dari ibu Prada PAH yang memintanya segera datang ke RSUD Buleleng.

"Sekitar jam 10-an saya sampai di rumah sakit, ternyata adik saya sudah meninggal, sudah di ruang jenazah. Waktu itu sempat ketemu orang tua Prada PAH di parkiran. Pas sampai di ruang jenazah, dari dokter tidak mengizinkan saya melihat kondisi jenazah," ungkap Gede Kamar dengan suara tertahan.

Keluarga Histeris: Luka Lebam dan Patah Tulang di Sekujur Tubuh

Kenyataan pahit bahwa Komang Basir menjadi korban pembunuhan oleh Prada PAH bersama dua rekannya, Sertu KSY dan Prada MR, membuat keluarga terpukul.

Mereka melaporkan kejadian ini ke Sub Detasemen Polisi Militer IX/3-1 Singaraja.

Keluarga semakin histeris saat akhirnya melihat kondisi jenazah Basir.

Mereka mengklaim menemukan luka lebam di sekujur tubuh, patah tulang tangan kanan, patah tulang rusuk, hingga patah tulang leher.

"Padahal masalah (gadai) sudah selesai. Tapi Basir dijemput tanpa mengabari keluarga kami di sini. Kami anggap ini penculikan. Apalagi disiksa seperti itu, seperti menyiksa anjing. Lebih baik dia ditembak ketimbang disiksa seperti itu," ujar Ketut Jimat, salah seorang anggota keluarga korban, dengan nada penuh amarah dan kesedihan.

Baca Juga: Kasus Perundungan Siswa SMP di Bali Viral, AWK: Si Pembully Harus Dihukum!

Tuntutan Keadilan dan Transparansi

Keluarga mengakui kesalahan Basir yang menggadaikan motor tanpa izin, namun mereka menilai hukuman yang diterima Basir jauh melebihi kesalahannya.

Mereka tidak habis pikir mengapa masalah yang sudah diselesaikan dengan penebusan motor berujung pada pembunuhan brutal.

"Kalau memang dipukuli, lalu dibawa ke polisi, kami mungkin tutup mata. Kami anggap itu pelajaran untuk Basir. Tapi masalahnya ini dieksekusi sampai kondisinya begitu," tegas Jimat.

Pihak keluarga mendesak polisi militer untuk mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya.

Baca Juga: Cara Makan yang Benar Menurut Hindu Bali: Pantangan dan Arti Sebenarnya Ngleklek hingga Ngamah Menurut Lontar Tutur Lebur Gangsa

Mereka juga meminta agar ponsel para pelaku diperiksa untuk menelusuri jejak komunikasi dan kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.

"Kalau memang ada rekannya sesama TNI yang terlibat, tolong diproses. Kalau ada masyarakat biasa yang ikut, agar diserahkan ke Polri. Kami harap hukum ditegakkan seadil-adilnya, supaya keluarga kami merasa sedikit lega. Jangan hanya dihukum ringan," harapnya dengan nada penuh harap.

TNI AD Tegaskan Komitmen Penegakan Hukum

Menanggapi kasus ini, Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana, Kolonel Inf Candra, menyatakan bahwa polisi militer sedang melakukan penyidikan intensif.

Pihaknya menjamin para prajurit TNI yang terlibat akan ditindak tegas sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

"Kami mengimbau semua pihak untuk memberikan kepercayaan penuh kepada aparat penegak hukum dalam menjalankan proses penyidikan secara profesional, transparan, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," ujar Kolonel Inf Candra.

Ia menegaskan bahwa Kodam IX/Udayana menjunjung tinggi supremasi hukum dan tidak akan menolerir segala bentuk pelanggaran yang mencoreng nama baik institusi TNI.

Baca Juga: Ibunda Ungkap Anak SMP di Denpasar Alami Kekerasan: Seragam Robek, Bibir Berdarah

Kronologi Singkat Pembunuhan

Kasus tragis ini bermula ketika Komang Juliartawan alias Basir meminjam sepeda motor Honda Scoopy milik orang tua Prada PAH dan menggadaikannya untuk bermain judi sabung ayam.

Prada PAH yang marah mengajak Sertu KSY dan Prada MR mencari korban di Denpasar. Mereka menemukan Basir di Jalan Drupadi pada Senin (5/5/2025) dini hari.

Korban kemudian dibawa ke GOR Ngurah Rai, Denpasar, diinterogasi, dan diduga dianiaya hingga tak sadarkan diri.

Selanjutnya, para pelaku membawa korban ke Buleleng dan diduga kembali melakukan penganiayaan di sepanjang perjalanan.

Keluarga baru mengetahui kabar duka ini pada Senin pagi saat diminta menjemput korban di RSUD Buleleng. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #pembunuhan #Kabupaten Buleleng #tni #Komang Juliartawan #motor