BALIEXPRESS.ID-Berberapa waktu lalu media sosial diramaikan dengan kemunculan organisasi masyarakat Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) di Bali yang menuai banyak reaksi publik.
Tak hanya masyarakat umum, sejumlah tokoh publik hingga komunitas adat mulai menyuarakan penolakan terhadap keberadaan ormas tersebut.
Baca Juga: KDM Sebut Preman Kebanyakan Nganggur, Begini Tanggapan GRIB Jaya Tapanuli
Para komunitas pecalang dari sejumlah desa adat beramai-ramai menyatakan sikap tegas menolak kehadiran ormas tersebut dengan berbagai cara.
Mulai dari video pernyataan resmi hingga pemasangan baliho penolakan, aksi-aksi ini menjadi bentuk solidaritas adat yang mengakar kuat di masyarakat Bali.
Berbagai penolakan ini akhirnya membuahkan hasil, melalui unggahan video singkat @tabanan.viral pada Senin, 12 Mei 2025, GRIB Jaya DPC berhasil dibubarkan/di-lockdown.
“Beberapa hari belakangan ini viral kemunculan ORMAS di Bali terkhusus di Kabupaten Tabanan yang menuai berbagai macam reaksi penolakan dari netizen. Sebelumnya ada pemberitaan tentang markas GRIB Jaya DPC TABANAN berlokasi di Sanggulan, Tabanan. Kabar terbaru beredar video Ormas ini resmi ‘lockdown’ /membubarkan diri didampingi Pecalang Adat Desa Sanggulan.” tulis akun @tabanan.viral, dikutip Selasa, 13 Mei 2025.
Baca Juga: Teco Kritik Wasit Liga 1, Soroti Kontroversi VAR saat Bali United Kalah dari Persija
Dalam pernyataan resmi yang terekam dalam video tersebut, salah satu anggota GRIB menyampaikan keputusan pembubaran organisasi di wilayah Tabanan.
“Grib jaya di Tabanan saat ini lockdown sampai kapanpun. Terima kasih.” ujar salah satu anggota GRIB
Sementara itu, perwakilan pecalang adat Sanggulan menegaskan penolakan mereka terhadap keberadaan ormas luar Bali dan menyatakan kesiapan menjaga keamanan wilayah secara mandiri.
“Kami Pasikian Pecalang Adat Sanggulan, menolak dengan tegas adanya ormas luar bali, kami pecalang sanggulan sudah mampu menjaga wilayah kami.” Tegas salah satu perwakilan pecalang.
Banyak dari mereka menyuarakan dukungan penuh melalui kolom komentar terhadap langkah tegas pecalang dalam menjaga wilayah adat Bali.
“Mantapp pecalang adat Bali , engkaulah pengaman Bali yg sesungguhnya , ngayah tulus ikhlas tnpa suatu kepentingan ... jaya sellalu pecalang Adat Bali.” komentar akun @o.d.d_sp46.
Baca Juga: Menyelinap Lewat Jalur Tikus: 17 Anak Punk dari Surabaya Diamankan di Gilimanuk
“Suksma semeton pecalang sanggulan.” tulis akun @suryaputra031167.
“Ayo wilayah lain nyusul.” tulis akun @barusta_93.
“Pantau terus siapa tau bergerak dalam senyap jauh lebih berbahaya.” saran akun @hasanudin72.
“Pecalang cabut akar grib di tanah dewata.. jgn sampai ormas yg berdiri organisasi di tanah bali...usir kan ormas..hidup pecalang.” tulis akun @binbin.yeozz.
Sumber kutipan dari akun @tabanan.viral menekankan bahwa gerakan penolakan ini bukan sekadar reaksi spontan, melainkan bentuk nyata sikap masyarakat adat Bali dalam menjaga harmoni dan ketertiban di wilayahnya.
Penolakan terhadap GRIB juga dianggap sebagai bentuk perlindungan terhadap identitas kultural Bali dari pengaruh organisasi luar yang dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai lokal.
Editor : Wiwin Meliana