SINGARAJA, BALI EXPRESS - Peningkatan infrastruktur jalan Pakisan–Klandis yang digadang-gadang sebagai urat nadi penghubung dua desa di perbukitan Buleleng, nyatanya belum rampung meski secara fisik disebut-sebut sudah mencapai 85 persen. Proyek bernilai Rp5,9 miliar ini kini menjadi sorotan tajam, menyusul viralnya keluhan warga di media sosial dan kenyataan bahwa medan ekstrem serta cuaca menjadi alasan utama keterlambatan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Buleleng, I Putu Adiptha Ekaputra, mengakui kondisi geografis yang berat menjadi tantangan terbesar.
“Medan sulit, lokasi tinggi, dan cuaca tidak bersahabat. Tapi kami tetap mengawasi. Pembayaran baru 30 persen, fisik 85 persen. Artinya, kontraktor pun sebenarnya menalangi,” ujarnya tegas, seolah mengingatkan bahwa pemerintah belum sepenuhnya menyelesaikan kewajiban anggarannya.
Namun, angka-angka itu belum menjawab tuntas pertanyaan publik, kapan proyek ini selesai secara sah? Hingga kini, belum ada serah terima resmi. Kualitas masih diuji di laboratorium, dan proyek akan diterima hanya jika memenuhi semua spesifikasi teknis.
“Belum tuntas. Kami hanya akan menerima ketika speknya sudah sesuai kontrak,” tegas Adiptha.
Baca Juga: TMMD ke-124 Fokus pada Infrastruktur dan Perlindungan Mangga Lokal Depeha
Dari segi teknis, proyek ini memang rumit. Tikungan curam, tanjakan ekstrem, dan kondisi tanah liat yang licin saat hujan dan keras saat kering, menjadi kombinasi maut bagi kendaraan. Adiptha bahkan menyarankan adanya rambu larangan melintas untuk kendaraan yang belum pernah melalui jalur ini. “Khusus kendaraan matic, jangan coba-coba,” katanya.
Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, turun langsung ke lapangan untuk mengecek kondisi terbaru. Ia mengakui medan jalan ini ekstrem, ditambah hujan yang nyaris tak berhenti dari Agustus tahun lalu hingga Mei ini.
“Saya perlu lihat sendiri. Ini jalan penghubung penting, dan meski masa kerja sudah lewat, kami tetap komit menyelesaikannya,” ujar Supriatna.
Ia juga menyentil sistem tender yang kerap sepi peminat karena risiko tinggi di daerah seperti ini. Menurutnya, Dinas PU harus mengkaji ulang klausul kontrak agar ada kelonggaran waktu pengerjaan jika lokasi tergolong ekstrem. “Bisa jadi itu bahan evaluasi ke depan,” katanya.
Dari sisi pelaksana, Komang Swanta, manajer lapangan PT Reksa Tiga Mitra, tidak menampik bahwa medan dan cuaca menjadi batu sandungan utama. Ia mengaku angkut material pun hanya bisa tiga kubik per rit, dengan waktu tempuh 1,5 jam dari titik stok. “Jalan mutar lewat Renditin, karena jalan utama sempat amblas,” ungkapnya.
Soal viralnya keluhan warga, Komang tak membantah. Namun ia menegaskan pihaknya sudah merespons cepat dan akan melakukan overlay ulang, bukan sekadar tambal sulam. “Besok kami overlay total di beberapa titik yang rusak. Ada sekitar 350 meter,” ucapnya.
Proyek ini memang belum selesai. Tapi harapan warga dan tuntutan kualitas terus menekan dari berbagai arah. Jalan yang belum sempurna ini, kini menjadi simbol tarik-menarik antara niat baik, realitas lapangan, dan tuntutan publik akan infrastruktur yang aman, layak, dan selesai tepat waktu.
Di tengah segala dinamika ini, satu hal menjadi terang. Pembangunan jalan bukan sekadar urusan aspal dan beton, tapi juga soal komitmen, integritas, dan keberanian mengakui tantangan, bukan menutupinya dengan alasan klasik. ***
Editor : Dian Suryantini