SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di tengah hingar-bingar musik elektronik dan gemerlap lampu panggung, berdirilah sosok DJ Diah Krisna. Namanya mungkin masih asing bagi sebagian orang, tapi di dunia musik DJ—khususnya di Bali—Diah perlahan menapaki jalannya sebagai talenta muda yang layak diperhitungkan. Siapa sangka, gadis kelahiran 1993 asal desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng ini punya segudang keterampilan yang jauh dari kesan stereotip DJ pada umumnya.
Perjalanan Diah menjadi DJ bukan terjadi dalam semalam. Ia memilih jalur ini bukan karena tren, apalagi sensasi. Melainkan karena satu hal yang sederhana tapi kuat yakni cinta pada musik. “Saya suka musik,” katanya singkat, namun penuh keyakinan.
Keseriusannya terlihat dari langkah awalnya yang mantap—masuk ke sekolah DJ di Denpasar, Bali. Di sana, ia mengikuti kelas demi kelas, dari dasar hingga level lanjutan. Proses belajar ini ia jalani selama hampir satu tahun hingga akhirnya lulus dan bersertifikat sebagai DJ profesional.
Namun setelah itu, bukan berarti dia langsung puas. Kala senggang, ia tetap mengasah kemampuannya, bahkan dengan mendatangkan mentor pribadi ke rumahnya. Sebuah langkah yang jarang diambil oleh mereka yang sudah merasa ‘cukup’.
Tapi di balik dentuman beat yang energik, Diah menyimpan sisi lain yang begitu kaya akan budaya. Ia bisa menari Bali, mekidung, mekekawin, hingga menyanyi. Seni tradisional bukan sesuatu yang asing baginya. Ia tumbuh bersama irama gamelan dan syair-syair kuno yang masih ia hafal hingga kini.
“Saya suka seni. Sejak sekolah dulu saya sudah belajar seni-seni tradisional,” ucapnya, polos namun mengesankan.
Namun untuk urusan menyanyi, ia justru merasa kurang percaya diri. “Suara saya tidak berkarakter,” katanya jujur. Maka, dunia DJ jadi pelabuhan yang pas—menggabungkan kecintaannya pada musik dengan kemampuannya untuk tampil di panggung.
Di luar dunia panggung dan musik, Diah juga punya sisi yang tak kalah menarik. Ia suka membaca dan menulis. Bahkan, saat ini ia tengah menyusun tahapan untuk sebuah proyek penulisan buku. Tak berhenti di situ, ia juga punya ketertarikan pada seni lukis.
“Saya tidak bisa melukis, tapi saat saya lihat lukisan, saya senang. Saya suka sekali,” ujarnya, matanya berbinar.
Tentu, menjadi DJ bukan hal mudah. Apalagi untuk seorang perempuan, terlebih di tengah pandangan masyarakat yang kerap mengaitkan profesi ini dengan dunia malam yang penuh stigma negatif. Diah pun pernah merasakan penolakan—bukan dari orang lain, tapi dari keluarga sendiri.
Awalnya, keluarganya keberatan. Mereka khawatir, takut Diah akan terjerumus dalam gaya hidup yang tak sesuai nilai-nilai yang selama ini dijunjung. Tapi Diah tak patah arang. Ia berusaha keras meyakinkan ibu dan kakaknya. Bukan dengan janji kosong, tapi lewat bukti dan sikap.
“Saya berjanji kepada keluarga saya, menjadi DJ untuk saya tidak seperti yang orang lain pikirkan. Saya bilang saya tidak akan nakal dan itu bukan sekadar janji. Itu tanggung jawab saya atas omongan saya,” ucapnya tegas.
Akhirnya, restu pun datang. Dan dengan itu, semangat Diah semakin menyala. Ia tahu, jalannya mungkin tidak mudah, tapi ia mantap melangkah.
“Setiap orang punya pandangan berbeda. Tidak masalah. Yang penting saya tidak macam-macam,” katanya sambil tersenyum.
Penampilannya mungkin tampak seksi, sesuai gaya DJ masa kini. Tapi di balik itu, ada karakter kuat, tekad yang teguh, serta cinta yang besar pada seni dan budaya. DJ Diah Krisna bukan sekadar pemutar lagu—ia adalah potret perempuan muda Bali yang tahu apa yang ia mau, dan berani berjuang untuk itu. ***
Editor : Dian Suryantini