SINGARAJA, BALI EXPRESS - Siapa sangka, di balik bukit kering dan lahan tandus Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, tersimpan cerita sukses seorang petani yang dulu berjibaku dengan kotoran ternak. Namun kini ia beralih jadi juragan buah naga terbesar di desa—bahkan nyaris terbesar di Bali!
Namanya I Wayan Kantra. Dulu, lelaki ini dikenal sebagai raja ternak babi dan sapi di kampungnya. Namun belasan tahun lalu, ia banting setir. Bukan karena bangkrut, tapi karena ia melihat peluang emas di balik kerasnya tanah kering dan matahari terik. Lahannya yang terbengkalai seluas 15 hektar itu kemudian disulap menjadi kebun buah naga organik yang luar biasa subur.
“Buah naga itu nggak manja. Nggak perlu air banyak, tapi doyan panas. Pas banget sama karakter tanah di sini,” ujar Kantra.
Kerennya lagi, Kantra tidak sembarang tanam. Ia memanfaatkan kotoran babi dan sapi bekas usaha ternaknya dulu untuk membuat pupuk organik. Bahkan, limbah ternak itu juga ia olah menjadi biogas—yang kini menerangi lampu-lampu di sekitar kebun dan dapur kandang.
“Kebun ini total organik. Dari pupuk, sampai penerangannya. Kalau panen, bisa tembus 50 ton,” katanya bangga.
Baca Juga: Hasilkan Puluhan Ribu Ton, Desa Bulian Jadi Sentra Buah Naga
Selama 18 tahun menggeluti perkebunan ini, buah naga Kantra sudah mencicipi manisnya pasar swalayan di Denpasar. Bahkan, sempat merambah ke Jerman dalam bentuk olahan dan juga Hongkong sebagai buah segar. Meski ongkos kirimnya bikin meringis, semangat Kantra tidak surut.
Kini, impiannya semakin besar untuk menembus pasar Tiongkok. Dan itu bukan angan-angan kosong. Beberapa tahun lalu, tim dari Bea Cukai Tiongkok (GACC) datang langsung ke kebunnya. Didampingi oleh pejabat karantina dari Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian Buleleng, mereka mengecek segala aspek. Dari kualitas pupuk, proses tanam, hingga mengambil sampel buah dan hama untuk diuji.
“Kalau lolos uji kelayakan, saya siap ekspor besar-besaran ke Tiongkok. Kebun saya bisa produksi sampai 700 ton per tahun,” kata Kantra penuh semangat.
Kini, dari kebun sunyi di ujung Buleleng, aroma buah naga Kantra bersiap menembus batas negara. Siapa sangka, dari kotoran ternak lahir buah manis yang kini dilirik dunia? Wayan Kantra membuktikan, kalau mau kerja keras dan berpikir beda, tanah kering pun bisa jadi ladang emas. ***
Editor : Dian Suryantini