SINGARAJA, BALI EXPRESS - Langit cerah Singaraja pagi itu menjadi saksi semangat baru Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam mengejar mimpi besar yakni kemandirian energi dan penggunaan energi bersih berbasis tenaga surya.
Dalam Apel Krida yang digelar di Taman Kota Singaraja pada Jumat (16/5), Sekretaris Daerah (Sekda) Buleleng, Gede Suyasa, menyampaikan komitmen pemerintah untuk mendukung penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di berbagai lini, mulai dari perkantoran hingga sektor pariwisata.
“Untuk menuju kemandirian energi, kita dorong pemanfaatan PLTS Atap. Tapi dari sisi regulasi, kita di kabupaten juga harus menyiapkan dasar hukumnya. Bisa berupa surat edaran Bupati, agar pelaksanaannya bisa segera berjalan tahun ini,” ungkap Suyasa di hadapan peserta apel.
Gede Suyasa menyebut, penggunaan PLTS Atap ini sejalan dengan arahan Gubernur Bali yang menginginkan agar seluruh instansi pemerintahan, sekolah, universitas, hotel, hingga vila, berpartisipasi dalam transisi energi bersih.
“Saya sudah dua kali rapat di provinsi, dan memang diarahkan semua pihak agar mulai pakai PLTS Atap,” jelasnya.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Selain untuk mendukung komitmen Bali sebagai pulau hijau dan bersih, penggunaan PLTS Atap juga diyakini mampu mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan memperkuat ketahanan energi lokal.
Namun demikian, Suyasa menekankan bahwa aturan main di tingkat kabupaten harus segera dirumuskan agar implementasi program ini tidak setengah-setengah.
“Regulasinya penting, jangan sampai kita semangat tapi bingung saat di lapangan. Harus ada payung hukumnya dulu,” tambahnya.
Selain membahas isu energi, Suyasa juga menyelipkan pesan penting kepada para calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) tahap pertama. Ia mengingatkan bahwa jika proses penetapan teknis (pertek) rampung bulan Mei ini, maka SK pengangkatan akan diproses di bulan Juni dan status baru sebagai P3K akan berlaku mulai Juli.
Namun, bukan sekadar status baru, Suyasa juga memberi peringatan tegas soal tanggung jawab moral dan etika sebagai abdi negara.
“Kalau sudah jadi P3K, harusnya jadi lebih semangat, lebih produktif. Jangan malah malas, bikin masalah di kantor atau di masyarakat. Status itu bisa dievaluasi, bahkan dibatalkan kalau melanggar,” tegasnya.
Di akhir arahannya, Suyasa berharap semangat perubahan ke arah yang lebih baik tidak hanya terbatas pada penggunaan energi bersih, tetapi juga tercermin dari sikap dan perilaku aparatur sipil negara.
Satu hal yang jelas, mimpi Bali menjadi pulau mandiri energi dan bersih tidak bisa hanya diwujudkan lewat wacana. Perlu komitmen nyata, dari pemerintah hingga masyarakat. Dan seperti matahari yang terus bersinar, semoga semangat menuju energi terbarukan juga terus menyala. ***
Editor : Dian Suryantini