BALIEXPRESS.ID – Sebuah gebrakan mengejutkan datang dari Pulau Dewata! Gubernur Bali, Wayan Koster, mengeluarkan ultimatum tegas agar dua pembangkit listrik utama di Bali segera menghentikan operasionalnya dan beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Langkah berani ini sontak menimbulkan pertanyaan besar, terutama terkait salah satu pembangkit yang belakangan menjadi sorotan warga.
Dua pembangkit listrik yang dimaksud adalah Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Pemaron yang berlokasi di Kabupaten Buleleng, serta Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dan Gas (PLTDG) Pesanggaran.
Baca Juga: Kejutan di Besakih: Korban Pemukulan Pecalang Justru Jadi Tersangka! Ada Apa?
PLTGU Pemaron sendiri belum lama ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng.
Pasalnya, operasional pembangkit listrik tersebut dilaporkan memicu kebisingan dan getaran yang mengganggu kenyamanan warga sekitar.
Fakta yang lebih mengejutkan terungkap bahwa mesin pembangkit yang beroperasi bukanlah pembangkit gas atau uap seperti namanya, melainkan menggunakan bahan bakar diesel! Hal inilah yang diduga kuat menjadi penyebab dampak negatif bagi masyarakat.
Menyikapi kondisi tersebut, Gubernur Koster dengan tegas meminta Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk segera mengalihkan penggunaan bahan bakar di PLTGU Pemaron dari solar ke gas.
Ia mengakui bahwa proses peralihan sumber energi ini tidaklah mudah, terutama karena keterbatasan pasokan gas dari luar Bali.
Baca Juga: Bergabung dengan Militer Rusia, Ini yang Membuat Satria Arta Kumbara Merasa Bangga
“Tapi jalannya tidak mulus. Suplai gas terhambat. Akhirnya pakai solar lagi. Ada hal yang harus diselesaikan,” ungkap Koster.
Namun, Koster tak tinggal diam. Ia mengaku telah melakukan pertemuan dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk mencari solusi.
Dalam pertemuan tersebut, Koster mengajukan penambahan pembangkit listrik baru di Bali yang menggunakan tenaga gas, dengan target kapasitas produksi mencapai 900 megawatt!
Jika rencana ambisius ini terealisasi, Bali diprediksi akan mengalami surplus energi yang signifikan.
Saat ini, ketersediaan listrik di Bali mencapai 1.400 megawatt, sementara kebutuhan listrik berada di angka 1.200 megawatt.
“Tahun 2029 kalau bisa yang 900 mw ini sudah selesai,” ujarnya optimis.
Lebih lanjut, Koster memastikan bahwa permasalahan suplai gas untuk pembangkit baru tersebut telah menemukan titik terang. Rencananya, gas akan disuplai langsung dari Papua Barat.
Tak hanya PLTGU Pemaron dan PLTDG Pesanggaran, Gubernur Koster juga memberikan perhatian khusus kepada PLTU Celukan Bawang.
Baca Juga: Awas Usil di Pura Luhur Kroya Tabanan! Pohon Keramat Penjaga dengan Pasukan Monyet Misterius!
Ia meminta agar pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batubara ini segera mencari sumber energi alternatif lain.
Bahkan, Koster secara tegas menyatakan telah mencabut rekomendasi penambahan pembangkit batubara di kawasan tersebut.
“Saya melarang pembangkit tenaga listrik menggunakan bahan bakar batu bara. Saya stop ini, tidak boleh lagi di Bali,” tandasnya dengan nada tegas.
Langkah berani Gubernur Koster ini tentu menjadi angin segar bagi upaya pelestarian lingkungan Bali dan kualitas hidup masyarakat. ***