Bakat bermain gitar ini muncul secara otodidak. Uniknya, pria yang akrab disapa Sugix sempat diragukan oleh orang tuanya sendiri, karena dianggap hanya main-main semata.
Rekam jejak Sugix menarik dikulik. Ia merupakan kelahiran Singaraja, 9 Juli 1992 silam. Ia tak hanya piawai memetik senar, tetapi juga memetakan arah baru musik instrumental dari pulau dewata ke pentas global.
Sugix kini menjadi simbol perjuangan dan ketekunan seorang musisi independen yang tak menyerah pada batasan.
Lahir dan tumbuh di Buleleng, Sugix adalah anak desa yang tidak dipungkiri bersahabat dengan keterbatasan. Musik datang bukan dari studio atau sekolah seni, melainkan dari tongkrongan dan pertemanan masa kecil.
“Saya lihat teman main gitar di tongkrongan. Di situlah saya jatuh cinta pada gitar,” kenangnya. Namun, memiliki gitar bukan perkara mudah. Ia harus menyisihkan uang saku sekolah berbulan-bulan.
“Orang tua saya sempat tidak setuju saya main gitar, dianggap main-main. Tapi saya serius,” tambahnya.
Keseriusannya itu berbuah manis. Ia mulai dikenal publik setelah menyabet juara 2 kompetisi Dewata Guitar Festival pada 2012.
Namun titik balik sejatinya datang pada 2018 ketika ia keluar sebagai juara 1 Ibanez Flying Finger Indonesia, sebuah kompetisi gitar paling prestisius di tanah air.
“Kemenangan itu membuka pintu saya. Dari situ saya mulai dikenal, dilirik brand, dan bisa menjadikan musik sebagai jalan hidup,” ujarnya.
Sugix bukan sekadar penggila gitar. Ia adalah kreator musik yang mendalami setiap aspek produksinya.
Dalam kurun waktu beberapa tahun, ia telah menelurkan tiga single dan dua EP instrumental berjudul Mother Earth Dream dan A New Story.
Musiknya tak hanya menonjolkan teknik, tetapi juga mengandung narasi emosional dan spiritualitas.
Salah satu karya terbaiknya, lagu Saraswati, bahkan mengantarkannya menjadi pemenang Karya Produksi Instrumentalia Terbaik di Anugerah Musik Bali 2022.
Kemampuan teknis dan karakter musikalnya membuat Sugix dipercaya menjadi juri di berbagai festival, mulai dari Hardrock Guitar Expo, Ganesha Music Festival, hingga Unud Music Festival.
Di mata peserta, ia adalah juri yang tidak hanya menilai, tetapi juga membimbing. “Saya ingin jadi bagian dari ekosistem musik yang membangun, bukan sekadar kompetitif,” ujarnya bijak.
Nama Sugix semakin diperhitungkan di ranah industri ketika ia menjadi endorsee resmi brand gitar FGN Jepang, sejajar dengan musisi tenar seperti Pay Burman dan Sony J-Rocks.
Sugix juga bekerja sama dengan NUX, produsen efek gitar yang tengah booming, serta VOX, brand ampli legendaris dari Inggris.
Kerja sama ini membuatnya tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga mulai masuk ke komunitas gitar global.
Namun, jauh dari panggung dan sorot kamera, Sugix juga berkiprah sebagai produser musik, session player, dan audio engineer di studio rekamannya sendiri yang berlokasi di Bali.
Ia telah memproduksi karya untuk musisi lokal maupun internasional yang berkarya di Pulau Dewata.
“Studio saya tempat banyak kolaborasi lintas budaya. Saya ingin Bali jadi simpul kreatif dunia,” katanya penuh antusias.
Sebelum sepenuhnya berkecimpung di industri musik, Sugix sempat bekerja selama tiga tahun di Humas Pemda Buleleng, kemudian melanjutkan karier di BPN Kota Denpasar selama tiga tahun.
Namun jiwa seninya memanggil untuk fokus penuh ke musik. “Saya merasa panggilan hidup saya di musik. Birokrasi memberi pengalaman, tapi musik memberi jiwa,” ujarnya.
Keseharian Sugix kini lebih banyak dihabiskan di studio dan panggung. Ia kerap menjadi narasumber di forum-forum musik, menjadi juri, hingga mengisi acara-acara musik independen di Bali.
Di tengah kesibukannya, suami dari Kartika Sari Dewi, serta ayah dari dua anaknya, Kanya Harita dan Lakshmira senantiasa meluangkan waktu demi keluarga tercinta. “Keluarga adalah sumber energi. Mereka yang membuat saya tetap membumi,” katanya.
Ketekunan dan konsistensi Sugix dalam menapaki jalur musik tidak dibentuk dalam semalam. Ia melewati masa-masa ragu, dilema keluarga, hingga ketidakpastian arah. Namun, dengan semangat yang tidak padam, ia mampu menegaskan eksistensinya.
“Saya ingin orang tahu, bahwa dari tempat kecil seperti Singaraja pun, kita bisa bermimpi besar,” tuturnya.
Bagi Sugix, musik bukan sekadar profesi. Ia adalah cara untuk menyampaikan makna, merayakan kehidupan, dan berbagi semangat kepada generasi berikutnya.
“Jangan pernah putus asa. Gagal itu bagian dari proses. Terus belajar dan tekun, karena jalan kita masing-masing sudah ada. Tinggal kita mau jalan atau tidak,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika