SINGARAJA, BALI EXPRESS – Di sebuah sudut perkampungan di Singaraja, aroma tahu goreng yang gurih menyusup dari dapur sederhana milik seorang lelaki tua berjiwa baja. Namanya Muri Kusnadi, seorang pensiunan ABRI yang kini lebih dikenal sebagai produsen tahu lombok ternama di Bali Utara.
Perjalanan hidup Muri Kusnadi tak biasa. Lahir di Lombok, Nusa Tenggara Barat, ia mengabdikan diri pada negara sebagai anggota ABRI sejak tahun 1977, dengan pangkat terakhir Sersan Mayor.
Setelah sempat berdinas di Dompu, NTB, ia kembali ke Singaraja tahun 2000 untuk menetap. Tapi alih-alih menikmati masa pensiun dengan bersantai, ia justru memilih "bertarung" kembali—kali ini di dapur.
“Saya gak mau hidup hanya dari pensiun,” kata Muri. Ia lantas merintis usaha tahu khas kampung halamannya, yang ia beri nama “tahu lombok”—bukan karena pedas, tapi karena berasal dari Lombok.
Bersama sang istri, ia membangun usaha itu dari nol. Modal semangat dan tekad. Di awal merintis, Muri mendatangkan empat tenaga kerja dari Lombok untuk memproduksi tahu. Namun, tak lama berselang, mereka pulang kampung saat hari raya dan tak pernah kembali. Produksi lumpuh. Dapur sunyi. Tungku padam.
Tapi seorang tentara tak pernah gentar. Alih-alih menyerah, Muri justru mengambil alih produksi sendiri. Ia belajar diam-diam, mencoba resep, meracik ulang, gagal, coba lagi, hingga akhirnya berhasil. Kini, ia bahkan telah mewariskan keterampilan itu kepada anak-anaknya.
“Awalnya jelek. Tapi lama-lama alhamdulillah, bagus. Saya ajarkan juga ke anak-anak,” katanya bangga.
Apa yang membuat tahu lombok ini berbeda dari tahu biasa? Kata Muri, rahasianya ada di cuka. Tahu biasa pakai cuka tajam mirip asam belimbing. Tapi tahu lombok menggunakan air garam berkadar tinggi dan direbus ulang setelah dicetak. Proses panjang ini membuat tahu lebih gurih, bahkan tanpa garam tambahan saat dimasak.
Strategi promosinya pun khas, gerilya dari rumah ke rumah, membagi tahu secara cuma-cuma. “Biar orang tahu rasanya,” ujar Muri. Setelah orang mencicipi dan jatuh hati, permintaan pun datang tanpa diminta. Rumahnya di Kampung Baru kini jadi tujuan para pencinta tahu gurih.
Dari dapur kecil itu, tahu lombok buatan Muri kini menyebar ke pasar-pasar di Buleleng dan sekitarnya. Ia tak hanya memberi rasa pada hidangan masyarakat, tapi juga menghadirkan kisah keteguhan, keberanian, dan semangat pantang menyerah dari seorang mantan prajurit yang kini berjuang di medan usaha.
“Alhamdulillah, dari usaha ini saya bisa sekolahkan anak-anak,” tutupnya.
Dari senapan ke sendok takar, dari medan tempur ke pasar, Pak Sersan Mayor menunjukkan bahwa perjuangan belum usai, dan keberanian itu bukan hanya soal perang—tapi juga soal bertahan hidup, dengan sepiring tahu gurih yang dibuat dengan sepenuh hati. ***
Editor : Dian Suryantini