SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di tengah bisingnya pagi di Pasar Seririt, Buleleng, Bali, ada satu sosok yang tak pernah absen mengisi sudut jalan. Seorang pria bertopi, tubuhnya tegap, matanya awas, dan tangannya selalu menggenggam setumpuk koran. Dialah Mujri, 54 tahun, penjual koran yang tetap setia berdiri meski dunia sudah lama berpindah ke layar ponsel.
Sudah 22 tahun Mujri menjalani profesi ini. Sejak 2003, ia menjual koran di kawasan Pasar Seririt, menyapa orang-orang yang lewat dengan suara khasnya, “Koran, Pak?!” Kini, pelanggan setianya bisa dihitung dengan jari, kebanyakan para lansia yang masih lebih nyaman membaca berita lewat kertas.
“Sekarang yang beli koran itu yang gaptek, yang buka internet aja pusing,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Baca Juga: Rio dan Bonsai: Cinta, Kesabaran, dan Sebatang Pohon Kerdil yang Bernilai Ratusan Juta
Mujri memulai harinya sejak pukul 07.00 hingga 11.00 WITA. Ia berkeliling dari Bank BPD Bali, Warung Mustri, hingga Toko Sri—semua tempat yang masih punya jejak pembaca koran. Ia mengambil pasokan dari Toko Buku Melati.
Sayangnya, keuntungan yang didapat dari menjual koran kini jauh dari kata cukup. Dalam sehari, Mujri hanya bisa membawa pulang Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu. Jumlah itu sangat berbeda dibanding awal ia berjualan, saat bisa mengantongi hingga Rp 100 ribu per hari.
“Kalau dulu ambil 30 eksemplar Jawa Pos, laku semua. Sekarang cuma ambil 7, kadang masih sisa,” keluhnya.
Namun bagi Mujri, berjualan koran bukan cuma soal uang. Ini soal kesetiaan. Soal kegemaran membaca yang dulu ia punya dan ingin ia wariskan, meski dunia sudah berubah arah.
Jauh sebelum menjadi penjual koran, Mujri adalah buruh toko bangunan selama 15 tahun dengan gaji harian Rp 15 ribu tanpa makan siang. Ia beralih profesi ketika anak pertamanya lahir—mencari harapan baru lewat lembaran berita.
Kini, bersama istrinya yang mengajar di madrasah, Mujri membesarkan tiga putri mereka dengan penuh cinta. Putri sulungnya sedang kuliah di Universitas Nurul Jadid (UNUJA) jurusan PGMI, anak kedua masih duduk di kelas 2 SMA, dan si bungsu kelas 5 MI. Semua disekolahkan dari hasil jualan koran yang makin sepi.
“Anak-anak semangat sekolah, walau uang jajan pas-pasan. Mereka nggak pernah ngeluh,” kata Mujri, matanya berbinar.
Ia tak lagi mengejar kekayaan, juga tak berharap kejayaan koran akan kembali. Mimpinya sederhana, yakni agar ketiga anaknya bisa menyelesaikan pendidikan dan meraih cita-cita. Itu saja cukup.
“Kalau mereka berhasil, walau saya tetap di sini jualan koran, hati saya sudah tenang. Itu surga dunia bagi saya,” ujarnya pelan, penuh keyakinan.
Mujri mungkin hanya satu dari sekian banyak penjual koran yang tersisa, tapi kisahnya adalah pengingat bahwa di balik lembar demi lembar yang kian usang, masih ada mimpi yang tetap hidup—dan seorang ayah yang tak pernah lelah menjaganya. ***
Editor : Dian Suryantini