Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kemarau Tapi Hujan Deras? BMKG Jelaskan Fenomena Tak Biasa Ini!

Wiwin Meliana • Sabtu, 24 Mei 2025 | 15:26 WIB

Ruas jalan di Bali saat terjadi banjir
Ruas jalan di Bali saat terjadi banjir

BALIEXPRESS.ID-Meski Indonesia secara umum memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah di tanah air justru masih dilanda hujan deras.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena ini sebagai "kemarau basah", dan memperkirakan akan berlangsung hingga Agustus 2025.

Menurut informasi dari situs resmi BMKG, kemarau basah ditandai dengan curah hujan yang berada di atas normal, bahkan selama puncak musim kemarau.

Baca Juga: Mantan Napi Pelecehan Seksual Terjerat Narkoba: Gelombang Penangkapan di Tabanan Ungkap Fakta Mengejutkan!

Untuk periode Juni hingga Agustus 2025, intensitas hujan diperkirakan terus meningkat. BMKG mencatat bahwa pada Juli, curah hujan akan mencapai 75,3%, dan meningkat hingga 84,94% pada Agustus.

Alih-alih menjadi periode kering, bulan Agustus diperkirakan akan menjadi fase pancaroba menuju musim hujan berikutnya yang dimulai secara bertahap dari September hingga November.

Musim hujan normal sendiri diprediksi baru benar-benar berlangsung antara Desember 2025 hingga Februari 2026.

 

Penyebab dan Potensi Dampak

 

BMKG mengaitkan kemarau basah ini dengan anomali iklim global seperti La Nina, yang dikenal memperkuat curah hujan di kawasan Indonesia. Selain itu, pemanasan suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia juga turut memperparah kondisi.

Baca Juga: Menuju Indonesia Bebas TBC: Perkuat Gerakan Desa dan Kelurahan Siaga

Dampak dari fenomena ini cukup serius. Curah hujan tinggi di luar musim berisiko menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti: Banjir bandang, Tanah longsor dan Angin puting beliung.

Sektor pertanian pun tak luput dari ancaman. Tanaman yang tidak tahan terhadap kelebihan air berpotensi mengalami gagal panen, merugikan petani dan mengganggu ketahanan pangan lokal. Infrastruktur, terutama drainase dan jalan di daerah rawan banjir, juga perlu diwaspadai terhadap risiko kerusakan.

 

Imbauan dan Langkah Antisipatif

Menanggapi potensi bahaya ini, BMKG dan pemerintah mengimbau masyarakat serta pemangku kepentingan untuk mengambil langkah antisipatif:

Siaga Bencana: Warga yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor diminta rutin memantau informasi cuaca serta memahami jalur evakuasi.

Pengelolaan Irigasi: Petani diimbau menyesuaikan pola tanam dan sistem irigasi, berkoordinasi dengan dinas pertanian setempat.

Perbaikan Drainase: Pemerintah daerah disarankan membersihkan dan memperbaiki sistem saluran air untuk menghindari genangan dan banjir.

Baca Juga: Pria Pengangguran di Denpasar Ditangkap Bawa Sabu dan Ratusan Butir Ekstasi

Kesehatan Masyarakat: Waspadai penyakit seperti demam berdarah dan diare dengan menjaga kebersihan lingkungan.

BMKG akan terus memantau perkembangan cuaca dan memberikan peringatan dini jika diperlukan. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan tidak menganggap remeh anomali cuaca ini.

Editor : Wiwin Meliana
#kemarau basah #kemarau #BKMG #hujan