BALIEXPRESS.ID – Persoalan infrastruktur jalan rusak menjadi duri dalam daging di tengah pesatnya perkembangan Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali, sebagai destinasi wisata alam dan budaya.
Kondisi jalan rusak ini tak hanya menyulitkan mobilitas warga, namun juga telah berulang kali memakan korban, baik dari kalangan penduduk lokal maupun wisatawan asing.
Perbekel Taro I Wayan Warka mengungkapkan keprihatinannya. Menurutnya, jalanan rusak yang diperparah oleh minimnya drainase dan intensitas hujan tinggi menjadi tantangan serius bagi desanya.
"Sudah tiga kali kami duduk bersama pihak terkait. Tapi karena derasnya air dan tidak adanya got, jalan kembali berlubang. Perbaikan ini bukan kewenangan desa, melainkan pemerintah kabupaten atau provinsi," ujar Warka pada Senin (26/5/2025).
Dampak kerusakan jalan ini sangat terasa, terutama bagi sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Desa Taro.
Beberapa ruas jalan yang merupakan jalur utama wisata cycling juga mengalami kerusakan parah, membahayakan para pesepeda.
Awal Mei lalu, seorang wisatawan asing dikabarkan terjatuh saat mengikuti tur sepeda di desa tersebut.
Insiden serupa juga kerap menimpa warga lokal, khususnya pengendara motor, yang menyebabkan luka ringan.
Warka menyayangkan, kondisi jalan rusak ini tak jarang menjadi keluhan warganet di media sosial, yang pada akhirnya dapat membentuk citra negatif bagi Desa Taro yang sedang berupaya keras membangun pariwisata.
Pihak desa sebenarnya tidak tinggal diam. Proposal perbaikan telah diajukan, dan koordinasi intensif dengan instansi terkait terus dilakukan.
Warka sangat berharap adanya langkah nyata dari pemerintah kabupaten atau provinsi dalam waktu dekat.
"Ini menyangkut keselamatan dan kenyamanan masyarakat, serta keberlanjutan ekonomi desa. Jika akses terganggu, maka potensi wisata juga terhambat," tegasnya.
Desa Taro sendiri adalah salah satu desa tertua di Bali, dikenal dengan daya tarik spiritual, lanskap sawah yang asri, dan aktivitas cycling tour yang sangat diminati wisatawan mancanegara.
Ironisnya, potensi besar ini terancam oleh infrastruktur jalan yang tidak memadai, yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan semua pihak. (*)
Editor : I Made Mertawan