SINGARAJA, BALI EXPRESS — Bangunan bersejarah yang sempat mencuri perhatian publik di Buleleng karena direncanakan menjadi creative hub—ruang ekspresi kreatif dan tempat tumbuhnya ide-ide brilian anak muda—kini justru akan menjadi rumah dinas Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna.
Alih fungsi ini sudah mulai mengarah ke kepastian. Tak tanggung-tanggung, menurut Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra, rencana itu sudah mendapat lampu hijau dari jajaran TNI AD. Bahkan, saat Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto, berkunjung ke Buleleng, ide ini mendapat sambutan hangat.
“Kami sudah bersurat secara resmi ke Kodim 1609/Buleleng, yang ditujukan ke Dandim. Ini bentuk tindak lanjut setelah ada sinyal positif dari TNI,” kata Sutjidra, Senin (2/6).
Gedung Kamar Bola yang terletak di jalan Ngurah Rai, Singaraja (tepat di depan Sekretariat DPD Golkar Buleleng), selama ini memang berada dalam penguasaan Kodim 1609/Buleleng. Beberapa tahun lalu, gedung itu digunakan untuk kegiatan TNI. Namun, publik sempat dibuat antusias karena ada wacana untuk mengalihfungsikannya menjadi pusat kegiatan kreatif. Tempat nongkrong, workshop, galeri seni, coworking space—apa pun namanya—yang pasti tempat hidupnya denyut kreatif anak muda Buleleng.
Namun seiring waktu, wacana itu perlahan menguap. Hingga kemudian muncul wacana gedung itu akan ditempati Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna. Areal yang akan dikuasai oleh Pemkab Buleleng seluas 21 are atau satu petak bangunan. Kabar ini juga dibenarkan Dandim 1609/Buleleng, Letkol Kav. Angga Nurdyana belum lama ini.
“Iya memang ada wacana seperti itu, tapi belum diputuskan,” kata dia.
Bila segala sesuatunya sudah disepakati, maka gedung tersebut akan dipugar, direstorasi, dan disulap menjadi kantor sekaligus rumah dinas untuk orang nomor dua di Buleleng.
Tapi tenang, kata Sutjidra, “bangunan asli tidak akan diubah bentuknya.” Sentuhan restoratif akan dilakukan secara hati-hati agar tidak menghilangkan nilai historis dan karakteristik arsitektur lamanya.
“Itu nanti Pak Wakil yang akan mencarikan arsiteknya. Kami akan restorasi. Tenang saja,” ungkap Sutjidra.
Untuk diketahui, gedung yang memiliki ruangan luas ini konon disebut Kamar Bola. Kini diberi nama Gedung Wisma Astina dan sedang difungsikan sebagai Koperasi Kartika Buleleng oleh TNI AD.
Baca Juga: JOSS24, Akan Bangun Creative Hub, Bangkitkan Kembali Even BEE Hingga Ciptakan Lapangan Pekerjaan
Filolog Sugi Lanus menceritakan secara singkat keberadaan gedung tua yang kono diberi nama Kamar Bola. Bangunan dengan ruang yang dipenuhi jendela itu adalah titik awal penataan Kawasan Buleleng. Keberadaan gedung yang dibangun oleh Belanda saat itu tidak lepas dari keberadaan sekolah pertama di Bali dan Buleleng, yang kini menjadi SD N 1 Paket Agung. “Pada tahun 1875 itu SD pertama yang didirikan di Buleleng,” kata dia.
Dilanjutkan, pada jaman itu, masyarakat Belanda yang tinggal di Buleleng memiliki sebuah tempat untuk berkesenian serta sebagai tempat hiburan. Berbagai kegiatan seni dan hiburan dilakukan di ruangan gedung ini, mulai dari menari, bernyanyi dan yang lainnya.
“Jadi semacam art center pertama itu, ya ini. Hub budaya itu ada kesenian, ada budaya dan nanti ada tonil-tonil dan juga drama-drama yang dipentaskan di sini. Termasuk juga menari, berdansa ada di sini dulu. Makanya disebut kamar bola. Asal kata dari Ballroom. Diterjemahkan secara biasa saja,” tuturnya.
Menurut Sugi Lanus, bangunan ini sudah difungsikan sejak tahun 1920. Pada tahun itu hingga tahun 1950-an ruangan di gedung ini selalu ramai oleh masyarakat yang berlatih seni. Baik itu music, tarian, serta kegiatan budaya lainnya.
“Dari pandangan saya, ini monument yang sangat penting. Dari tahun 1920 ini sudah ada. Tahun 1950 ini masih digunakan untuk berkesenian. Ada tonil, teater dan orang megambel dan sebagainya,” ujarnya kembali menegaskan. ***
Editor : Dian Suryantini