SINGARAJA, BALI EXPRESS — Di tengah gempuran pembangunan dan makin sempitnya lahan pertanian, Pemerintah Kabupaten Buleleng mengambil langkah jitu untuk menjaga sawah-sawah tetap lestari. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menggelontorkan insentif pajak hingga 90 persen bagi para pemilik lahan pertanian yang masuk dalam kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Hal ini adalah salah satu capaian kepemimpinannya selama 100 hari kerja sejak dilantik jadi Bupati Buleleng bersama Gede Supriatna sebagai wakilnya.
“Ini upaya nyata kami agar lahan pertanian tidak beralih fungsi jadi bangunan atau properti lain. Selain itu, ini juga bentuk dukungan kami terhadap ketahanan pangan di Buleleng,” ujar Bupati Sutjidra, Selasa (2/6).
Langkah ini bukan sekadar janji manis. Pemerintah Kabupaten Buleleng benar-benar mengucurkan insentif dalam jumlah besar. Bayangkan saja, dari total 312.195 wajib pajak Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang tersebar di seluruh Buleleng pada tahun 2025, ada sebanyak 26.283 wajib pajak yang lahannya masuk dalam kawasan LP2B. Nilai ketetapan awal pajak dari lahan-lahan ini mencapai Rp2,4 miliar lebih.
Baca Juga: Putu Ayu Reika Nurhaeni, Perempuan Tangguh di Balik Roda Pembangunan Buleleng
Namun, setelah diberi insentif potongan 90 persen, angka ini langsung menyusut drastis. Diskon pajak yang diberikan kepada para pemilik lahan pertanian LP2B mencapai Rp2,167 miliar. Alhasil, pemilik lahan hanya perlu membayar sekitar Rp247,8 juta secara total.
Diskon ini bukan kaleng-kaleng. Pemerintah benar-benar serius ingin memastikan lahan pertanian tidak hilang perlahan karena tergiur pembangunan yang menjanjikan keuntungan cepat.
“Kalau kita tidak mulai dari sekarang, bisa-bisa anak cucu kita nanti cuma bisa lihat sawah di gambar atau museum,” kelakar Bupati Sutjidra dengan nada serius tapi santai.
Kebijakan ini juga punya efek ganda. Selain menjaga ketahanan pangan lokal, pemerintah berharap sawah-sawah yang tetap lestari ini bisa jadi daya tarik agrowisata. “Bayangkan, kita punya sawah hijau terbentang, sistem irigasi subak yang masih terjaga, ditambah suasana pedesaan yang tenang—itu magnet luar biasa untuk wisatawan,” tambah Sutjidra.
Menurutnya, agrowisata adalah masa depan pariwisata Buleleng. Bukan sekadar pemandangan indah, tapi juga pengalaman belajar—melihat langsung proses menanam padi, memanen, hingga ikut terlibat dalam keseharian petani. “Dan petani kita juga bisa dapat tambahan penghasilan dari wisata ini. Jadi saling menguatkan,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Buleleng tampaknya memang tidak main-main. Kebijakan ini menjadi salah satu bagian dari strategi besar untuk memperkuat sektor pertanian sebagai penopang ekonomi daerah. Dengan memberikan insentif, pemerintah ingin memberikan sinyal jelas bahwa bertani adalah pekerjaan mulia yang harus didukung, bukan ditinggalkan.
Dengan angka ketetapan pajak mencapai Rp23,6 miliar lebih untuk seluruh wajib pajak tahun ini, potongan senilai Rp2,167 miliar bagi petani LP2B menunjukkan keberpihakan yang kuat pada pertanian. Ini bukan sekadar soal anggaran, tapi soal visi ke depan—membangun Buleleng yang tetap hijau, lestari, dan mandiri pangan. ***
Editor : Dian Suryantini