Kisah ini berawal pada tahun 1999, ketika Putu Agus Panca Saputra, yang kini dikenal sebagai Jro Panca, mengalami kecelakaan motor saat masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.
Luka yang dialami di kaki memang sembuh, namun meninggalkan bekas putih yang tak kunjung hilang. Belakangan, ia mengetahui bahwa bekas tersebut adalah vitiligo, kondisi kulit yang membuatnya merasa rendah diri dan terasing.
Berbagai upaya dilakukan orang tuanya, dari pengobatan medis hingga tradisional. Namun, tak satu pun membuahkan hasil.
Luka tersebut membuatnya ia bereksperimen untuk mencari obat yang dapat menyembuhkan.
“Setiap orang berhak sembuh. Alam telah menyediakan obat. Tinggal bagaimana kita bersabar dan ikhlas dalam memanjatkan doa,” demikian keyakinannya.
Tahun 2013 menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Di tengah laku spiritual yang ia jalani, Jro Panca mulai mempelajari lontar-lontar pengobatan Bali kuno.
Ia menyelami bukan hanya teksnya, melainkan energi dan keselarasan di balik setiap ajaran leluhur. Proses itu membawanya meracik minyak herbal, yang awalnya hanya digunakan untuk keperluan pribadi dan keluarga.
Namun seperti memiliki daya hidup sendiri, ramuan tersebut menyebar dari tangan ke tangan. Orang-orang mulai berdatangan dengan harapan akan kesembuhan.
Di sinilah Jro Panca menyadari bahwa minyak ini bukan semata campuran bahan herbal, melainkan perantara antara niat tulus, kekuatan doa, dan energi alam Bali yang penuh restu.
Pada tahun 2023, atas saran beberapa sahabat dan meningkatnya minat masyarakat, ia memutuskan memberi nama ramuan ini yakni Minyak Kalimosada.
Nama tersebut merujuk pada Kalimosada, pusaka milik Yudistira dalam kisah pewayangan, simbol Dharma, kesaktian, dan penyembuhan.
“Nama ini sekaligus menjadi simbol bahwa minyak ini adalah jembatan antara tradisi dan kebutuhan spiritual masa kini,” katanya.
Minyak Kalimosada diracik secara khusus hanya pada hari Purnama, saat energi semesta dipercaya mencapai titik puncaknya.
Umat Hindu Bali meyakini bahwa Purnama adalah saat ketika Dewa Siwa memberkati bumi dengan cahaya kesadaran tertinggi.
Proses peracikan dilakukan dengan mantra, tirta, dan upacara pemujaan, menjadikan setiap tetes minyak mengandung vibrasi sakral.
Setiap botol Minyak Kalimosada menyimpan warisan leluhur, kehangatan penyembuhan. Uniknya, produk ini bukan produk massal, melainkan warisan spiritual yang dihidupkan kembali sebagai bentuk kasih dari leluhur kepada semua insan yang mencari keselarasan.
Minyak ini juga dipercaya mampu meredakan pegal linu, nyeri sendi, masuk angin, mual, serta membantu penyembuhan gatal-gatal dan gigitan serangga.
Kandungannya membantu memperlancar peredaran darah dan merilekskan saraf, menjadikannya pilihan alami untuk pemulihan tubuh.
Ia juga menggunakan minyak ini untuk menyelaraskan aura dan cakra, membersihkan energi negatif dalam tubuh maupun ruangan, melindungi dari gangguan halus, hingga membantu memperkuat meditasi dan intuisi.
Dalam ritual tertentu, Minyak Kalimosada digunakan sebagai sarana memanggil restu leluhur.
Minyak ini juga menjadi penenang batin yang ampuh, terutama saat seseorang mengalami kecemasan, gangguan tidur, mimpi buruk, atau rasa gelisah tanpa sebab.
Sebagai bagian dari spiritual self-care, minyak ini bisa dioleskan ke tubuh, digunakan sebelum meditasi, atau ditempatkan di bantal, altar, bahkan dupa.
Uniknya, Minyak Kalimosada hanya boleh digunakan dalam keadaan hati bersih dan niat baik, sebab, minyak ini tidak akan bekerja maksimal bila digunakan dalam kemarahan, kebencian, atau niat jahat.
“Saya meyakini, jika energi hanya mengalir dalam ketulusan,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika