Upacara ini menandai berakhirnya masa brahmacari bagi siswa tingkat menengah pertama di sekolah yang bercirikan keagamaan Hindu ini.
Kepala Madyama Widyalaya Jnana Dharma Sastra, Kadek Adi Suartawan, S.M., menjelaskan bahwa prosesi samawartana sekaligus dikolaborasikan dengan acara pelepasan siswa (graduation), menciptakan harmoni antara nilai-nilai tradisi dan semangat modernitas.
“Menariknya, pada prosesi samawartana ini, kami padukan dengan pelepasan siswa sehingga ada kolaborasi antara tradisi dan modernisasi,” ujarnya.
Sebelum upacara berlangsung, siswa telah menempuh serangkaian ujian akhir, baik secara teori maupun praktik, termasuk mata pelajaran keagamaan seperti tattwa (filsafat), susila (etika), acara (upacara keagamaan Hindu), dan sejarah kebudayaan Hindu.
Dengan kelulusan ini, para siswa memiliki peluang melanjutkan pendidikan ke berbagai jenjang, baik di SMA/SMK umum maupun lembaga Hindu.
Adi Suartawan menegaskan bahwa Widyalaya ini adalah sekolah umum bercirikan Hindu, bukan sekolah khusus.
“Jadi, dasarnya ya sekolah umum. Hanya saja kami punya ciri khas pada aspek pendidikan keagamaan Hindu,” katanya.
Total jumlah siswa yang menempuh pendidikan di sekolah ini dari kelas tujuh hingga sembilan tercatat sebanyak 63 orang.
Sementara itu, Ketua Yayasan Mertajati Widya Mandala, Dr. I Made Bagus Andi Purnomo, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa pihak yayasan tengah memperjuangkan perubahan status lembaga menjadi sekolah negeri pada tahun 2025.
Namun karena adanya kebijakan efisiensi, proses tersebut mengalami penundaan. Meski begitu, perjuangan tetap dilakukan secara kolektif oleh yayasan dan para guru.
“Tujuan akhir kami adalah peralihan menjadi status negeri. Sehingga menjadi Widyalaya milik pemerintah yang tentu akan makin kuat dari segi finansial dan juga potensi perkembangan ke depan,” paparnya.
Meski masih berstatus swasta, Madyama Widyalaya telah mencatat berbagai pencapaian, termasuk memperoleh akreditasi “baik” dalam penilaian perdana tahun 2024 dan membukukan prestasi siswa di berbagai ajang lomba tingkat daerah, provinsi, hingga nasional, baik di bidang saintek maupun keagamaan.
Sebagai bagian dari strategi penguatan mutu, yayasan terus mengembangkan infrastruktur pendidikan dan meningkatkan kualitas tenaga pengajar.
“Kami tahun ini akan memiliki 6–7 guru yang tamat S2 dari total 13 guru. Sisanya sedang berproses. Target kami satu sampai dua tahun lagi, semua guru bergelar S2,” kata Bagus Purnomo, yang juga merupakan akademisi di IAHN Mpu Kuturan Singaraja.
Ia menekankan bahwa kompetensi guru adalah fondasi utama bagi kualitas lembaga pendidikan. Selain mendorong studi lanjut, para guru juga didorong untuk mengikuti proses sertifikasi guna menjadi tenaga pendidik profesional.
“Fokus kami adalah para guru. Syukur sudah ada pendataan dan proses ‘running’ untuk sertifikasi guru mata pelajaran agama Hindu dan umum di lembaga kami,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika