BALIEXPRESS.ID – Nasib para petani Subak Tohpati, Desa Tohpati, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, kian memprihatinkan.
Selain dilanda kekeringan selama bertahun-tahun yang membuat sekitar 25 hektare lahan tidak bisa digarap, mereka juga harus menghadapi persoalan rusaknya infrastruktur pertanian hingga beban biaya yadnya yang cukup besar.
Keluhan ini diungkapkan langsung oleh Kelihan Subak Tohpati, Nengah Sudana, saat ditemui di Tempek Wanasari, Senin (9/6/2025).
Menurutnya, lahan seluas 25 hektare yang berada di wilayah tersebut sudah lebih dari lima tahun dibiarkan terbengkalai karena kekeringan. Sawah-sawah kini dipenuhi ilalang dan semak belukar.
"Kekeringan terjadi karena terowongan saluran irigasi di wilayah kami jebol. Padahal air dari hulu di wilayah Tembuku masih mengalir lancar," ungkap Sudana.
Ia menyebutkan, kerusakan saluran irigasi ini sudah lama dilaporkan ke Dinas PU Provinsi Bali dan Dinas PU Kabupaten Klungkung. Bahkan beberapa pejabat dan pihak terkait disebut sudah meninjau lokasi. Namun, hingga kini belum ada perbaikan nyata.
Akibat kondisi tersebut, sebagian petani terpaksa meninggalkan lahannya dan beralih menjadi buruh bangunan demi menyambung hidup.
Tak hanya itu, kondisi fisik Bale Subak yang menjadi pusat aktivitas musyawarah petani juga sangat memprihatinkan. Atap bangunan dari asbes banyak bocor, dan lantai yang ditumbuhi lumut membuat pertemuan sulit dilaksanakan.
"Bahkan belum lama ini, paruman petani bubar karena hujan deras menyebabkan bale bocor. Rapat tak bisa dilanjutkan," keluhnya.
Sudana yang kembali terpilih sebagai Kelihan Subak juga menyoroti beratnya beban petani dalam membiayai berbagai upacara subak, seperti pujawali di Pura Subak, magpag toya, upacara ngemping hingga ngemak. Bantuan dari Pemprov Bali yang hanya Rp 15 juta per tahun dinilai jauh dari cukup. Satu kali pujawali saja membutuhkan biaya sekitar Rp 30 juta, sementara upacara dilakukan dua kali setahun.
"Kalau kami tarik iuran, kasihan petani. Mereka sudah terbebani ongkos bajak, tanam, hingga mahalnya harga pupuk dan bibit," ujar Sudana.
Untuk itu, pihaknya berharap Pemkab Klungkung dan Pemprov Bali segera menindaklanjuti perbaikan terowongan saluran air serta membantu renovasi Bale Subak. Ia juga mendorong agar dana retribusi dari sektor pariwisata bisa disisihkan lebih banyak untuk mendukung keberlanjutan subak sebagai pilar penting ketahanan pangan dan penunjang pariwisata Bali.
“Bagaimana subak bisa menopang ketahanan pangan dan mendukung pariwisata kalau infrastrukturnya dalam kondisi rusak parah?” pungkasnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana