Kisah di Balik Kesiapan Bencana Tabanan: Nyoman Srinadha Giri Ungkap Strategi Tak Terduga di Tengah Cuaca Buruk!
IGA Kusuma Yoni• Selasa, 10 Juni 2025 | 03:21 WIB
I Nyoman Srinadha Giri
BALIEXPRESS.ID – Di tengah ketidakpastian cuaca ekstrem yang melanda, Pemerintah Kabupaten Tabanan, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), mengeluarkan imbauan serius kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Namun, di balik imbauan tersebut, tersimpan kisah menarik tentang langkah-langkah antisipasi tak terduga yang disiapkan oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tabanan, I Nyoman Srinadha Giri.
Apa saja strategi unik yang disiapkannya untuk menghadapi potensi bencana?
Ancaman Bencana di Depan Mata: Srinadha Giri Serukan Kewaspadaan!
I Nyoman Srinadha Giri menegaskan bahwa intensitas hujan tinggi yang melanda beberapa wilayah di Tabanan saat ini berpotensi menimbulkan berbagai risiko bencana.
"Kami mengajak seluruh warga masyarakat Tabanan untuk selalu waspada dan sigap menyikapi cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini. Mohon tetap memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana seperti lereng, bantaran sungai, dan wilayah yang berpotensi longsor atau banjir,” jelasnya.
Cuaca ekstrem seperti hujan deras terus-menerus dapat memicu beragam bencana alam, mulai dari banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga terganggunya akses transportasi.
Dalam situasi darurat, BPBD Tabanan akan memprioritaskan penanganan kejadian yang mengancam keselamatan jiwa, seperti evakuasi korban, pembukaan akses jalan yang terputus, penanganan banjir, serta pendirian posko dan distribusi logistik.
"Senso" dan "Kapak": Senjata Rahasia BPBD Tabanan Hadapi Pohon Tumbang?
Yang menarik, Srinadha Giri mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan penambahan sarana dan prasarana penanggulangan bencana dengan cara yang tidak biasa.
Bukan hanya alat-alat besar, melainkan juga peralatan yang terkesan sederhana namun vital: 10 buah kapak dan 14 unit mesin senso.
"Mesin senso itu akan didistribusikan ke 10 kecamatan, dan sisanya disiagakan di markas BPBD, penyediaan mesin ini untuk mempercepat penanganan dini jika terjadi bencana serentak di beberapa titik, terutama jika terjadi pohon tumbang,” lanjutnya.
Langkah ini memunculkan pertanyaan: seberapa efektifkah strategi ini dalam menghadapi bencana skala besar?
Anggaran Ratusan Juta untuk Sewa Alat Berat: Mengapa Tidak Membeli?
Tidak berhenti di sana, BPBD Tabanan juga menyiapkan anggaran sebesar Rp100 juta khusus untuk menyewa alat berat seperti excavator dan truk angkut.
Alasan di balik penyiapan anggaran ini adalah karena alat-alat berat tersebut belum dimiliki secara permanen oleh BPBD.
Keputusan untuk menyewa ketimbang membeli ini menimbulkan pertanyaan: mengapa BPBD belum memiliki alat berat sendiri, padahal kebutuhan penanganan bencana begitu mendesak?
Dan apakah anggaran sewa ini akan cukup untuk menghadapi skenario bencana terburuk?
Langkah-langkah antisipasi yang diambil oleh BPBD Tabanan di bawah kepemimpinan Nyoman Srinadha Giri ini menunjukkan keseriusan dalam menghadapi ancaman bencana.