BALIEXPRESS.ID-Prof. Dr. I Wayan Dibia, seorang budayawan, koreografer, penulis, dan akademisi yang telah mendedikasikan hidupnya bagi pelestarian dan pengembangan seni pertunjukan Bali, khususnya tari.
Lahir di Singapadu, Gianyar, Bali pada 12 April 1948, Prof. Dibia tumbuh di lingkungan yang lekat dengan kesenian tradisional.
Baca Juga: Kronologi Istri Lompat dari Motor Suami di Jalur Denpasar – Gilimanuk: Ternyata Ini Masalahnya
Sejak muda, ia telah menunjukkan bakat luar biasa di bidang tari dan terus mengasah kemampuannya hingga meraih gelar Guru Besar Koreografi di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pada tahun 1999.
Selama 44 tahun mengabdi sebagai dosen dan seniman di lembaga seni yang dulu dikenal sebagai ASTI, kemudian STSI, dan kini ISI Denpasar, Prof.
Dibia dikenal luas sebagai figur yang disegani dan inspiratif. Ia resmi memasuki masa purnabakti pada 1 Mei 2018, namun semangatnya untuk berkarya tak pernah pudar.
Pada tahun 2021, Pemerintah India menganugerahkan Padma Shri Award, salah satu penghargaan sipil tertinggi di negara tersebut, kepada Prof. Dibia.
Penghargaan ini diberikan atas jasanya dalam mempererat hubungan budaya antara Bali dan India melalui karya-karya seni tari dan kolaborasi lintas budaya.
Penghargaan ini menjadi pengakuan dunia atas kontribusi Prof. Dibia dalam memperkenalkan kisah-kisah epik seperti Mahabarata dan Ramayana melalui seni pertunjukan Bali.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Tinjau Polsek Weru Usai Penangkapan Geng Motor, Siap Masukkan ke Barak Militer
Karya Ikonik dan Kolaborasi Internasional
Sebagai maestro tari, Prof. Dibia dikenal dengan sejumlah karya monumental, antara lain:
Kecak Subali dan Sugriwa (1976)
Kecak Dewa Ruci (1982)
Tari Manuk Rawa (1981, bersama I Wayan Beratha)
Tari Puspa Wresti, Wirauda, dan lain-lain
Body Tjak (1990), kolaborasi dengan seniman asal AS Keith Terry
Pralaya (2016), teater tari epik Mahabarata di Toronto bersama San Pradaya
Karya-karya tersebut bukan hanya menonjol dari sisi artistik, tapi juga sarat makna filosofis dan edukatif. Sebagian besar mengangkat nilai-nilai budaya dan spiritual dari teks klasik India yang diterjemahkan dalam format pertunjukan Bali yang khas.
Sastrawan dan Penulis Produktif
Selain sebagai penari dan koreografer, Prof. Dibia juga merupakan penulis produktif. Beberapa buku penting karyanya antara lain:
Dramatari Gambuh dan Tari-Tarian yang Hampir Punah di Beberapa Daerah di Bali (1979)
Kecak, The Vocal Chant of Bali (2000)
Balinese Dance, Drama, and Music (2012)
Tari Komunal (2015)
Kecak: Dari Ritual ke Teatrikal (2017)
Arja Anyar (2017)
Tari Barong Ket: Dari Kebangkitan Menuju Kejayaan (2018)
Di bidang sastra, ia juga menulis lima buku puisi berjudul Puitika Tari (2021), buku puisi Bali Kali Sengara (pemenang Anugerah Sastra Rancage 2023), serta novel bertema tari Bintang Panggung (2023).
Dedikasi Tak Pernah Padam
Dikutip dari berbagai sumber, Prof. Dibia mengungkapkan bahwa karya seninya sejak awal memang banyak berakar dari kisah-kisah Mahabarata dan Ramayana. Ia pertama kali tampil di India pada 1969 membawakan tari Hanoman, dan kembali mementaskannya terakhir kali pada 2013.
Dari garapan prembon Gatotkaca Sraya (1971), Kecak Gugurnya Prabu Drestaratha (1972), hingga kolaborasi Kaliyudha bersama Cak Rina dan Gunawan
Kini, meski telah pensiun secara formal, Prof. Dr. I Wayan Dibia tetap aktif dalam berbagai kegiatan kesenian.
Ia adalah contoh nyata seniman intelektual dan pendidik sejati yang tak pernah berhenti belajar, berkarya, dan berbagi. Lewat tangan dan pikirannya, ia membuktikan bahwa seni bisa menjadi jembatan kuat bagi persaudaraan budaya dunia.
Editor : Wiwin Meliana