Mereka tergabung dalam kelompok Kayoman Pedawa dan salah seorang anggotanya adalah Putu Yuli Supriyandana.
Sosok Putu Yuli memang sederhana. Namun, kiprahnya dalam menjaga lingkungan desanya di Pedawa layak diapresiasi.
Pria kelahiran Pedawa berusia 33 tahun, menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia pendidikan dan pelestarian adat di desanya.
Kisah pendidikannya pun menarik dikulik. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 4 Pedawa dan melanjutkan ke SMP Negeri 4 Banjar, lalu menamatkan SMA di Laboratorium Undiksha Singaraja tahun 2010.
Setelah itu, Putu Yuli melanjutkan pendidikan tinggi di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar dan kemudian di Universitas Terbuka, menamatkan studi pada tahun 2018.
Sebagai seorang pendidik, Putu Yuli kini mengabdi di SD Negeri 2 Tirtasari. Kecintaannya terhadap dunia pendidikan tidak hanya tercermin dalam profesinya, tetapi juga dalam peran aktifnya sebagai Sekretaris Sekolah/Pasraman Adat Manik Empul Pedawa.
Di lembaga ini, ia turut membina generasi muda dalam memahami nilai-nilai agama Hindu dan adat istiadat lokal, memastikan warisan budaya tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Tak hanya di bidang pendidikan, Putu Yuli juga dikenal sebagai sosok pemimpin muda yang aktif dalam kegiatan sosial dan adat.
Baca Juga: Kasus Kredit Fiktif, Eks Dirut BPR Bali Artha Anugrah Gus Toni Divonis 8 Tahun Penjara
Ia dipercaya sebagai Ketua Perkumpulan Wayanayana Kayoman Pedawa, organisasi yang bergerak dalam penguatan identitas dan solidaritas warga desa.
Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Putu Yuli menceritakan lahirnya Kayoman Pedawa karena kondisi lingkungan yang memprihatinkan.
Terlebih pohon -pohon besar di sumber mata air mulai berkurang akibat alih fungsi tanaman dari tanaman keras ke tanaman produktif karena pertimbangan ekonomi.
Pihaknya khawatir jika beralihnya tanaman keras ke tanaman produktif mengakibatkan debit air menjadi berkurang.
Terlebih kondisi Pedawa berada di wilayah perbukitan dengan kondisi geografis yang miring.
Atas kondisi itu, pihaknya pun semakin berupaya menjaga kondisi lingkungan agar pelestarian air dan hutan tetap terjaga.
“Kami memang komunitas lokal, tetapi memang memiliki kecintaan yang sama terhadap lingkungan, memiliki hoby di bidang tanaman” kata Yuli.
Yuli menambahkan, menjaga debit air dan lingkungan adalah menyelamatkan kehidupan. Menurutnya, kebutuhan akan air harus diawali dengan menjaga sumber air dan kelangsungan hutan.
“Nah pada Desember 2016 inilah kami dirikan Kayoman Pedawa bersama teman-teman, untuk penyelamatan air, bersih-bersih sampah, menanam pohon. Kami juga peduli dalam pelestarian adat dan budaya di Pedawa,” sebutnya.
Jejaring terus dikembangkan bersama komunitas lain dengan konsisten melakukan Gerakan kecil di sumber mata air yang lokasinya berada di lahan milik pribadi warga. Proses pembibitan, penanaman dan perawatan pohon rutin dilaksanakan agar menjaga kesinambungan lingkungan. (dik)
Editor : I Putu Mardika