BALIEXPRESS.ID-Isu mundurnya Pekak Petruk dari pementasan Drama Gong di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025 masih ramai diperbincangkan publik.
Setelah sebelumnya mencuat dugaan adanya politisasi, Blauk dan Pekak Petruk akhirnya memberikan klarifikasi dalam sebuah sesi perbincangan terbuka.
Baca Juga: NGERI! Sindikat Penipuan Love Scam di Bali Dikendalikan dari Kamboja, 38 Orang Ditangkap
Dalam podcast yang dipandu Erwin di kanal YouTube Jeg Bali, Blauk menyampaikan bahwa niat awal dari pembentukan Drama Gong untuk PKB 2025 sebenarnya sangat positif.
“Dasar dan tujuan pertama dibentuknya Drama Gong niki bagus sekali, tyang salut,” ujar Blauk. Dikutip Rabu, 11 Juni 2025.
Ia kemudian menceritakan bagaimana proses latihan sempat berjalan dengan semangat dan komunikasi melalui grup WhatsApp.
Namun, karena Pekak Petruk sudah sepuh, ia jarang mengikuti komunikasi di grup.
Meski begitu, Blauk mengaku tetap mendorong Pekak Petruk untuk hadir dan terlibat secara langsung, sebagai bentuk penghargaan dan semangat terhadap kesenian.
“Niki di depannya beliau, tyang tanpa mengurangi, tyang minta beliau untuk tetap hadir, karena ini upaya bagus. Bapak tyang juga tyang gitukan,” jelasnya.
Blauk menegaskan bahwa persoalan yang terjadi tidak berkaitan dengan politik, melainkan bersumber dari persoalan internal organisasi.
“Jadi sebenernya ini gaada masalah ke politik, akarnya sekali ini masalah organisasi. Cuman di organisasi nika, bukan ketuanya nggih. Itu yang men share video ke publik. Padahal itu harusnya di share ke group dulu,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah bermaksud merendahkan pihak manapun dalam polemik yang terjadi.
“Tyang tidak pernah menjelekkan siapapun, paguyuban, kurator,” tegas Blauk.
Lebih lanjut, Blauk mengungkapkan bahwa setelah video viral, ada perhatian langsung dari Gubernur Bali dan pihak paguyuban yang berusaha menghubungi Pekak Petruk.
Baca Juga: Bung Towel: Skor 6-0 Lawan Jepang Bukti Indonesia Masih Kalah Kelas
“Setelah viral wenten arahan dari Gubernur, kemudian ada usaha menghubungi Pekak,” ujarnya.
Meski telah terjadi upaya komunikasi, Blauk menyinggung soal sulitnya membangun kembali kepercayaan setelah seseorang merasa kecewa.
“Masalah memafkan, mangkin ampun. Tapi beda ya, orang yang pernah kecewa, kepercayaan sulit dikembalikan lagi,” ucapnya.
Petruk menyampaikan harapan terbaik untuk pementasan drama gong yang tetap akan berlangsung di PKB 2025.
“Maaf, tyang sampun mecepol munyine mepamit. Semoga penampilan drama gong pang becik,” ujar Pekak Petruk.
Editor : Wiwin Meliana