BALIEXPRESS.ID-Nama Prof. Dr. I Wayan Dibia belakangan ramai dibicarakan publik setelah polemik seputar perannya sebagai kurator seni dalam kasus absennya pertunjukan Pekak Petruk di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.
Di tengah sorotan tersebut, sosok ini sejatinya dikenal luas sebagai maestro tari legendaris, budayawan, sekaligus akademisi yang telah mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian dan pengembangan seni pertunjukan Bali selama lebih dari empat dekade.
Lahir di Singapadu, Gianyar, Bali pada 12 April 1948, Prof. Dibia tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan tradisi seni.
Dilansir dari berbagai sumber, Prof. Dibia meniti kariernya di dunia akademik sejak bergabung dengan ASTI Denpasar (kini ISI Denpasar) pada tahun 1975, dan menjadi bagian penting dari transformasi institusi tersebut hingga menjelma menjadi perguruan tinggi seni terkemuka di Indonesia.
Karier akademisnya mencakup berbagai posisi strategis, mulai dari Kepala Bidang Akademik ASTI Denpasar (1975), Pembantu Ketua I Bidang Akademik STSI Denpasar (1984), Kepala UPT Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STSI Denpasar (1992), hingga menjabat sebagai Ketua STSI Denpasar periode 1997–2001.
Prof. Dibia juga sempat memimpin unit Penjaminan Mutu ISI Denpasar (2008–2009) serta menjadi Ketua Program Studi Seni Program Doktor Pascasarjana ISI Denpasar (2017–2018).
Pada 1 Mei 2018, Prof. Dibia resmi memasuki masa purnabakti setelah 44 tahun mengabdi sebagai dosen tetap di ISI Denpasar.
Namun, dedikasinya terhadap dunia pendidikan tidak berhenti di sana. Hanya sehari setelah pensiun, ia kembali diangkat sebagai dosen non-PNS untuk melanjutkan pengabdiannya selama sembilan tahun ke depan.
Baca Juga: Mengenal Sosok Prof I Made Bandem; Maestro Tari, Akademisi, dan Duta Budaya Dunia
Sebagai Guru Besar bidang koreografi sejak 1999, Prof. Dibia berperan besar dalam inovasi seni pertunjukan Bali.
Ia dikenal luas sebagai pelopor pembaruan tari kecak dengan karya monumental seperti Kecak Subali dan Sugriwa (1976) dan Kecak Dewa Ruci (1982).
Kolaborasinya bersama seniman Keith Terry dalam proyek internasional The Body Tjak (1990) turut mengangkat seni Bali ke panggung dunia.
Tidak hanya mencipta, ia juga produktif dalam menulis. Sejumlah karyanya menjadi rujukan penting dalam studi seni Bali, seperti Dramatari Gambuh dan Tari-Tarian yang Hampir Punah di Beberapa Daerah di Bali (1979), Kecak, The Vocal Chant of Bali (2000), hingga Balinese Dance, Drama and Music: A Guide to the Performing Arts of Bali (2012).
Ia juga menerbitkan karya terkini seperti Tari Komunal (2015), Kecak: Dari Ritual ke Teatrikal (2017), Arja Anyar (2017), dan Tari Barong Ket: Dari Kebangkitan Menuju Kejayaan (2018).
Kontribusinya terhadap seni lintas budaya mendapat apresiasi internasional. Ia menerima penghargaan Padma Shri Award dari Pemerintah India pada tahun 2021 atas perannya dalam mempererat hubungan seni antara Indonesia dan India.
Baca Juga: Puitika Tari: Warisan Estetik Prof. I Wayan Dibia yang Menyulam Puisi dari Gerak Tari
Penampilan perdananya di India terjadi pada tahun 1969 dengan membawakan Tari Hanoman, yang kemudian disusul karya-karya lainnya yang mengangkat epik Mahabharata dan Ramayana ke panggung Bali.
Selain buku akademik, Prof. Dibia juga aktif menulis sastra. Ia menerbitkan lima buku puisi Puitika Tari (2021), beberapa buku puisi berbahasa Bali seperti Kali Sengara yang meraih Anugerah Sastra Rancage pada 2023, serta novel Bintang Panggung yang mengangkat kehidupan para penari dalam fiksi.
Pengabdiannya diakui di tingkat lokal dengan penghargaan Bali Jani Nugraha dari Gubernur Bali pada 2022. Ia dianggap sebagai figur penting dalam pelestarian seni Bali kontemporer, sekaligus jembatan antara tradisi dan modernitas.
Prof. I Wayan Dibia tidak hanya meninggalkan jejak dalam gerak dan panggung seni, tetapi juga dalam pemikiran, tulisan, dan institusi yang ia bangun. Sebagai akademisi dan seniman, ia menjadi simbol inovasi dalam tradisi, yang warisannya terus hidup dalam lintas generasi.
Editor : Wiwin Meliana