BALIEXPRESS.ID-Polemik yang menyelimuti tokoh lawak Petruk setelah dikabarkan “diblacklist” dari Pesta Kesenian Bali (PKB) menjadi sorotan serius di kalangan seniman dan akademisi.
Dalam podcast Jeg Bali, tokoh legendaris seni Bali, Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita, turut angkat suara, memberi pandangan kritis namun bijak.
Baca Juga: ASTUNGKARA! Bantuan Pengabenan untuk Komang Adi Terkumpul, Bocah Tenggelam di Tambak Udang
Dikenal sebagai Patih Agung dalam dunia drama gong Bali, Prof. Sugita menegaskan bahwa kegaduhan ini merupakan dinamika biasa dalam dunia seni.
“Yang namanya kisruh dalam dunia seni, tumben tiang nepuk ane care jani,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia mengungkap, kehadirannya dalam podcast bukan untuk menambah kisruh.
“Semua yang disebut tadi, kurator, ketua paguyuban, Prof. Bandem, Prof. Dibia itu semua teman saya, senior saya. Tiang hanya pembina drama gong Gianyar, pelaku sebagai praktisi, sekaligus akademisi,” jelasnya.
Prof. Sugita menilai bahwa pihak kurator tidak bisa disalahkan sepenuhnya.
Kurator, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk menjaga etika dan kesantunan di panggung.
“Kurator menghimbau, melarang seniman untuk tidak berkata-kata yang tidak senonoh, penuh kesantunan. Toh itu tugasnya kurator,” ucapnya tegas.
Namun ia juga tak menyalahkan Petruk sebagai pelaku seni lawak. Menurutnya, dalam dunia lawak wajar terjadi dinamika.
“Petruk pun sing salah, pelaku nika ada dinamika. Dunia lawak itu hidup. Tapi kita semua harus ingat, seni pertunjukan harus punya tatanan, tuntunan, dan tontonan,” pesan Prof. Sugita.
Terdapat beberapa komentar dari para netizen dalam podcast tersebut.
“Sehat selalu dan lantang tuuh Prof. Wayan dan jeg bali semoga sukses dan selalu mengedukasi para masyarakat,” tulis akun @gungdesuryawan3356
“Mantapp patih agung antagonis legend,” tulis akun @GustiNgurahRaiParwata
“Drama gong adalah cerminan masyarakat bali,” tulis akun @sugickmatchow629
Editor : Wiwin Meliana