SINGARAJA, BALI EXPRESS – Program ngaben masal, akan mendapatkan anggaran khusus dengan subsidi langsung untuk keluarga yang ikut serta dalam prosesi tersebut. Program tersebut merupakan salah satu janji politik dari Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra bersama wakilnya Gede Supriatna.
Hal ini disampaikan langsung oleh Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, dalam pernyataannya terkait lima program prioritas pembangunan daerah yang akan tetap dijalankan. Di antara lima prioritas itu, pelestarian adat, agama, tradisi, dan budaya Bali menempati urutan keempat, setelah program pangan-sandang-papan, pendidikan-kesehatan-jaminan sosial-ketenagakerjaan, serta pengembangan infrastruktur, UMKM, dan pariwisata.
“Program Ngaben ini termasuk ke dalam pelestarian adat. Pengajuannya dilakukan setahun sebelumnya, agar bisa dianggarkan pada tahun berikutnya. Jadi tahun depan ini sudah bisa diajukan ke bagian Kesra dan Kebudayaan,” jelas Sutjidra, Selasa (17/6).
Menurut Sutjidra, program ini dirancang untuk mendukung pelaksanaan upacara ngaben massal yang biasanya diselenggarakan oleh desa adat. Mengingat biaya upacara ngaben yang cukup besar, pemerintah daerah akan memberikan subsidi sebesar Rp1 juta per sawa (jenazah) untuk meringankan beban keluarga. Selain itu, desa adat yang menyelenggarakan ngaben massal juga akan mendapatkan insentif khusus sebesar Rp50 juta.
“Subsidi Rp1 juta per sawa itu sebagai bentuk dukungan konkret. Dan untuk desa adat yang menyelenggarakan ngaben massal, tahun depan juga akan kami berikan insentif sebesar Rp50 juta per desa adat,” tegasnya.
Bupati Sutjidra juga menyebutkan bahwa Pemkab Buleleng telah melakukan perhitungan anggaran secara rinci untuk mendukung program ini. Berdasarkan data sementara, terdapat sekitar 170 desa adat di wilayah Kabupaten Buleleng. Jika dibagi menjadi lima tahap pelaksanaan ngaben massal secara rata-rata, maka per tahap akan melibatkan sekitar 200 sawa.
“Post anggaran untuk ngaben ini sudah kami hitung-hitung. Kalau misalnya dari 170 desa adat dibagi menjadi lima, berarti per pelaksanaan rata-rata ada 200 sawa. Subsidi tetap akan kami berikan,” ujarnya.
Baca Juga: 100 Hari Kepemimpinan Sutjidra-Supriatna: Gerak Cepat Wujudkan Buleleng Paten
Langkah ini menjadi bentuk konkret sinergi antara pemerintah dan desa adat dalam menjaga keberlangsungan budaya Hindu Bali, tanpa mengabaikan aspek kesejahteraan warga. Ngaben massal selama ini menjadi solusi efisien dan spiritual bagi warga desa adat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi namun tetap ingin menjalankan kewajiban adat dan agama secara layak.
Program subsidi ini juga dinilai sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai-nilai tradisi Bali yang kaya, luhur, dan penuh makna spiritual. Pemerintah tidak hanya membangun jalan, jembatan, dan fasilitas publik lainnya, tetapi juga membangun ruang spiritual dan sosial masyarakat.
Selain fokus pada adat dan budaya, empat program prioritas lainnya juga tetap dijalankan secara seimbang. Pangan, sandang, dan papan menjadi prioritas utama yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Di bidang pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, dan ketenagakerjaan, Pemkab Buleleng tetap berupaya memperluas akses dan kualitas pelayanan publik.
Pengembangan infrastruktur, pemberdayaan UMKM, dan penguatan sektor pariwisata juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Semuanya dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Namun demikian, Sutjidra menegaskan bahwa pembangunan fisik tidak akan berarti tanpa pembangunan budaya. Oleh karena itu, pelestarian adat, tradisi, dan agama menjadi bagian penting dari pembangunan manusia Bali secara utuh. ***
Editor : Dian Suryantini