Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kemenpar Matangkan Paket Wisata 3B, Harapkan Pemerataan Kue Pariwisata

I Putu Mardika • Senin, 23 Juni 2025 | 00:56 WIB

Wamen Pariwisata, Niluh Puspa saat menghadiri acara FGD di Wantilan Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, Minggu (22/6)
Wamen Pariwisata, Niluh Puspa saat menghadiri acara FGD di Wantilan Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, Minggu (22/6)
BALIEXPRESS.ID-Upaya pengembangan pariwisata di wilayah Bali Utara, Bali Barat, dan Banyuwangi (3B) terus digenjot oleh Kementrian Pariwsiata dan pemerintah daerah, dalam pemerataan kue pariwisata.

Salah satunya melalui forum diskusi kolaborasi penguatan amenitas dan aksesibilitas destinasi wisata 3B di Wantilan Pantai Lovina, Kabupaten Buleleng, pada Minggu (22/6) siang.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, menekankan pentingnya sinergi dan penyamaan visi antara tiga wilayah tersebut.

Ia menyebut bahwa ketiganya memiliki potensi yang sejajar dalam aspek alam dan budaya, mulai dari pantai, perbukitan, pegunungan, hingga kearifan lokal yang hidup.

Dody mengakui masih ada tantangan serius dalam penguatan amenitas dan aksesibilitas. Karena itu, menurutnya, kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga pelaku industri pariwisata menjadi sangat krusial untuk meningkatkan daya saing destinasi di mata wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Diharapkan, dengan adanya konektivitas jalur laut dan paket wisata yang terintegrasi ini, pariwisata di Kabupaten Buleleng akan mengalami perkembangan pesat. Wisatawan diharapkan tidak hanya berkunjung, tetapi juga memperpanjang masa tinggal mereka di Bali Utara, memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat setempat,” jelas Dody.

Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Enik Ermawati, menambahkan bahwa saat ini sejumlah Online Travel Agent (OTA) besar seperti Atourin, Mister Aladin, dan Tiket.com telah mulai memasarkan paket wisata terintegrasi kawasan 3B. Ia menggarisbawahi bahwa momentum ini perlu dijaga melalui implementasi yang konsisten dan berkelanjutan.

Wamenpar yang akrab disapa Ni Luh Puspa ini menjelaskan bahwa peluncuran program wisata 3B sebenarnya telah dilakukan sejak September 2024 oleh mantan Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno. Sejak saat itu, penguatan destinasi terus digarap dengan strategi kolaboratif.

Demi menguatkan paket wisata tersebut, ia juga mengungkapkan bahwa dirinya telah bertemu langsung dengan Bupati Jembrana, Made Kembang Hartawan, dan Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, untuk menyamakan visi dalam pembangunan destinasi unggulan di masing-masing wilayah. Menurutnya, kesamaan arah pembangunan menjadi kunci keberhasilan integrasi kawasan 3B ini.

Lebih lanjut, Ni Luh Puspa menyatakan bahwa penguatan wisata 3B tidak boleh hanya menjadi seremoni atau pencitraan semata. Ia menegaskan bahwa pemerintah ingin melihat realisasi yang nyata di lapangan dan mendorong semua pihak untuk segera bergerak secara konkret dan cepat.

Forum tersebut juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Universitas Udayana dan Ikatan Alumni Universitas Udayana (IKAYANA) terkait pengelolaan sampah berbasis destinasi pariwisata serta penguatan paket wisata 3B.

Ni Luh Puspa juga menyinggung pentingnya digitalisasi sektor pariwisata. Ia mengusulkan agar Buleleng dijadikan proyek percontohan digitalisasi wisata agar seluruh aktivitas pariwisata dapat dipantau dan diukur secara lebih akurat, terutama dalam kaitannya dengan transparansi, penghitungan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan efektivitas promosi.

Wamenpar menekankan bahwa pemerintah harus mengetahui secara pasti berapa jumlah wisatawan yang datang, lama tinggal mereka, serta dampaknya terhadap ekonomi lokal. Menurutnya, data konkret sangat penting sebagai dasar evaluasi dan perumusan kebijakan pariwisata yang berkelanjutan.

“Target pasar paket wisatawan 3B ini menyasar seluruh wisatawan. Salah satunya ke Wisatawan China,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, menyampaikan bahwa kesiapan infrastruktur pariwisata di wilayahnya telah optimal, terutama terkait akses transportasi udara. Ia menegaskan bahwa Bandara Banyuwangi sudah memiliki landasan pacu sepanjang 2.700 meter dengan lebar 45 meter dan telah melayani penerbangan internasional ke Malaysia.

Menurut Mujiono, dengan fasilitas tersebut, wisatawan dari Malaysia dapat langsung mendarat di Banyuwangi dan melanjutkan perjalanan menuju Bali melalui jalur laut. Ia meyakinkan bahwa jalur ini sangat potensial untuk mendukung konektivitas wisata 3B.

Terkait kapal cepat rute Banyuwangi–Denpasar, Mujiono menginformasikan bahwa kapal tersebut sudah berada di Pelabuhan Pantai Boom dan tinggal menunggu operasional resmi.

“Kordinasi dengan pihak Denpasar berjalan baik, dan pihaknya sangat terbuka dalam mendukung integrasi pariwisata antara Banyuwangi dan Bali,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika