BALIEXPRESS.ID — Provinsi Bali menjadi tuan rumah penyelenggaraan Inter-Islands Tourism Policy (ITOP) Forum ke-26, sebuah forum kerja sama antarprovinsi kepulauan yang menjadikan sektor pariwisata sebagai prioritas utama.
Kegiatan ini digelar pada 20–23 Juni 2025 di Bali Beach Convention / The Meru Sanur, dengan tema “Natural and Cultural Resource-Based Wellness Tourism” atau wisata kebugaran berbasis sumber daya alam dan budaya.
Forum ini diikuti oleh delegasi dari 10 provinsi di 10 negara, yaitu Bali (Indonesia), Jeju (Korea Selatan), Hainan (China), Okinawa (Jepang), Hawaii (AS), Southern Province (Sri Lanka), Zanzibar (Tanzania), Phuket (Thailand), dan Cebu (Filipina).
Baca Juga: Gelar Hari Yoga Internasional ke-11, Dihadiri 1.500 Orang
Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, menuturkan bahwa forum ini menjadi wadah saling bertukar pengalaman bagi daerah-daerah kepulauan yang sama-sama mengandalkan kekuatan budaya dan alam dalam mengembangkan pariwisata.
“Join statement bekerja sama mengembangkan pariwisata ke depan. Karena sama-sama provinsi kepulauan ada yang sama promosikan nature. Bali muncul destinasi karena kekuatan budaya termasuk pariwisata,” ujar Dewa Made Indra yang didampingi Wakil Gubernur Jeju, Korea Selatan, Myong Kee Jin, saat konferensi pers.
Menurut Dewa Made Indra, wisata kebugaran saat ini menjadi tren di pasar pariwisata global, dan Bali telah sejak lama memiliki kekuatan untuk mengembangkan segmen ini karena budaya dan alamnya.
Baca Juga: Keluarga Komang Alam Datangi Polres Bangli, Singgung Perkembangan Kasus dan Penerapan Pasal
Ia mengingatkan bahwa pariwisata Bali pertama kali dikenal sejak tahun 1920 karena citra “Pulau Dewata” yang melekat kuat.
“Banyak yang datang ke Bali tidak hanya berwisata tapi tinggal di Bali. Ini menjadi cikal bakal perkembangan pariwisata Bali,” jelasnya.
Dalam forum ini, para peserta juga membahas tantangan dan strategi dalam membangkitkan kembali sektor pariwisata pascapandemi.
Dewa Made Indra mengungkapkan bahwa semua daerah peserta forum mengalami tekanan hebat selama pandemi Covid-19 dan kini tengah berupaya bangkit.
“Sharing pengetahuan tantangan dihadapi masing-masing provinsi apalagi post pandemic semua mengalami situasi down lalu mencoba bangkit,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kebudayaan merupakan fondasi utama pariwisata Bali yang tetap relevan hingga kini.
Baca Juga: Bupati dan Wakil Bupati Badung Ikuti Retret Kepala Daerah Gelombang II di IPDN Jatinangor
“Kekuatan utama yang menjiwai aktivitas kita termasuk pariwisata seperti yang disampaikan Bapak Gubernur Bali,” tegasnya.
Dari pihak tuan rumah tahun depan, Wakil Gubernur Jeju, Myong Kee Jin, mengumumkan bahwa Jeju akan menjadi tuan rumah ITOP Forum selanjutnya yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.
“Jeju mengutamakan keindahan alam dan tradisi kebudayaan. Seperti kelompok penyelam terkenal di Jeju,” katanya.
Baca Juga: Bank BPD Bali Raih 2 Penghargaan Nasional di Ajang Future Finance Awards 2025
Ia juga menekankan komitmen Jeju dalam menjaga lingkungan menghadapi tantangan perubahan iklim.
“Itu sudah ada rencana sampai 2035 berhubungan kebudayaan dan harmonis kami akan terus memelihara ecotourism di Jeju island juga,” imbuhnya.
Myong memuji Bali sebagai destinasi wisata yang tidak hanya kuat secara budaya, tetapi juga berhasil mengembangkan produk-produk UMKM yang memperkaya ekosistem pariwisata.
“Bali sudah sangat bagus tidak aca banyak masukan untuk Pemerintah Provinsi Bali,” tuturnya.
“Sudah seperti kerajinan tangan selain kebudayaan dan banyak produk dari UMKM sangat maju tidak banyak masukan diberikan Bali sangat bagus sekali,” tambahnya.
Selama rangkaian kegiatan, para delegasi juga diajak mengunjungi kawasan hutan mangrove di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai.
Kunjungan ini sejalan dengan tema wisata kebugaran berbasis alam dan budaya, yang dianggap relevan dengan kondisi dan potensi Bali.
“Pariwisata wellness dan pariwisata alam. Temanya menciptakan pariwisata kesehatan berbasis alam dan kebudayaan kita. Masalah kebugaran salah satunya keberadaan hutan mangrove,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Bali, I Wayan Sumarajaya.
Sumarajaya menekankan bahwa pariwisata kesehatan tidak hanya terbatas pada spa atau pijat, melainkan juga mencakup upaya menjaga lingkungan.
Baca Juga: Hadiri Retreat, Gubernur Koster Bangga Putra Bali Jadi Mayoret Praja Madia
“Bagaimana kebugaran lingkungan harus kita lakukan, lingkungan bisa keberlanjutan. Bali benar-benar membangun pariwisata berkelanjutan,” tandasnya.(***)
Editor : Rika Riyanti