BALIEXPRESS.ID — PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menanggapi serius laporan masyarakat terkait dugaan penurunan performa kendaraan setelah pengisian bahan bakar jenis Pertalite.
Hingga Senin (23/6), tercatat 19 kendaraan yang telah terkonfirmasi bermasalah dan tengah menjalani proses pemeriksaan oleh tim teknis Pertamina.
“Yang sudah terkonfirmasi dan proses gitu ya ada 19 kendaraan. Tapi yang lain masih dalam proses pemeriksaan. Pengecekan gitu lah ya,” ujar Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, saat diwawancarai.
Baca Juga: Polisi Segera Gelar Rekonstruksi Kasus Domino Maut di Buleleng, Siapa Picu Kekerasan Duluan?
Ahad mengatakan, laporan keluhan tersebut tersebar di sejumlah SPBU di Bali.
Dari hasil penelusuran awal, diketahui bahwa keluhan pertama kali diunggah melalui media sosial pada 16 Juni 2025, dan kurang dari 12 jam setelah itu, tim Pertamina langsung menuju lokasi bengkel tempat kendaraan diperiksa.
“Tim kami ke sana, kemudian berkoordinasi kemudian mengambil sampel produk dari dalam tangki kendaraan yang belum dikuras, kemudian yang ada di filter bahan bakar dan kemudian mencocokkan dengan data histori pembelian di SPBU terakhir di mana kendaraan itu mengisi BBM,” jelasnya.
Sebanyak 16 sampel telah dikumpulkan dari berbagai titik, termasuk dari SPBU, filter kendaraan pelanggan, dan terminal BBM, untuk kemudian diuji di laboratorium Lemigas yang tersertifikasi.
Sampel tersebut mencakup rangkaian pengujian dari hulu hingga hilir.
“Sample yang dibawa itu ada 16 item kalau saya enggak salah nanti. Set yang ada di SPBU, set yang ada di fuel, tangki bahan bakar pelanggan yang ada di filter dan juga tambahan kami tambahkan terakhir set yang 16 set yang ada di terminal,” jelas Ahad.
Baca Juga: Bupati Badung Temukan Fasilitas Balawista Memprihatinkan, Langsung Telepon Rudiartha
Ahad menjabarkan bahwa Pertamina menerapkan tujuh tahapan pengecekan kuantitas dan kualitas produk BBM dari mulai pengiriman hingga sebelum bahan bakar masuk ke tangki kendaraan pelanggan.
“Dari mulai masuk ke kapal kemudian begitu kapal sandar sebelum dibongkar ke terminal Manggis itu akan dites dulu. Dua kali tes belum dibongkar ke tangki timbun di terminal. Pada saat sudah dibongkar di dalam tangki timbun pun dites lagi. Sudah tiga tes berarti,” katanya.
Pengecekan berlanjut sebelum produk dipindahkan ke mobil tangki, saat tiba di SPBU, hingga saat bahan bakar berada di tangki pendam SPBU.
Baca Juga: KMP Agung Samudra 9 Kandas di Perairan Gilimanuk, Tim SAR Lakukan Evakuasi Puluhan Penumpang
Bahkan sebelum dijual ke konsumen, SPBU wajib melakukan pengujian harian dengan menuangkan sampel ke bejana ukur transparan untuk dicek densitas, suhu, dan kejernihan.
“Jadi konsistensi kualitas dari mulai dari kami selaku distributor sampai nanti yang menempel di filter bahan bakar ataupun tangki bahan bakar milik pelanggan. Itu yang kita upayakan,” terang Ahad.
Pihaknya juga melakukan pelacakan transaksi pembelian menggunakan data QR Code yang wajib ditunjukkan saat pembelian Pertalite.
Dari sini, Pertamina dapat mengetahui lokasi SPBU tempat pengisian, asal pengiriman BBM, dan jenis produk yang digunakan, apakah berasal dari kilang dalam negeri atau impor.
Ahad menegaskan bahwa uji laboratorium akan memberikan hasil pasti mengenai ada atau tidaknya kandungan yang menyebabkan performa kendaraan menurun, termasuk jika terdapat endapan atau partikel berat seperti lumpur atau pasir.
“Kita harapkan nanti ke Lemigas ini bisa menjawab juga hasil ujinya seperti apa di masing-masing tahapan,” katanya.
Baca Juga: Pernyataan Mengejutkan Iran: Tak Ada yang Bisa Mengatur Kami Soal Uranium!
Lebih lanjut, ia menegaskan komitmen Pertamina untuk menjaga kualitas dan kuantitas produk yang disalurkan ke masyarakat.
“Saya tidak main-main bahwa kita juga menjaga kualitas dan kuantitas produk sebagai distributor itu juga menjadi yang utama untuk kepuasan pelanggan Setia Pertamina,” tegas Ahad.(***)
Editor : Rika Riyanti