Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Trauma Berat! Kisah Pilu Istri Lihat Suami Ditembak saat Bulan Madu di Bali, Kini Rawat 6 Anak Sendiri

I Gede Paramasutha • Rabu, 25 Juni 2025 | 00:26 WIB
Kuasa Hukum keluarga korban penembakan, Pahrur Dalimunthe, Boris Tampubolon dan Sarie Latif. (Bali Express/Istimewa)
Kuasa Hukum keluarga korban penembakan, Pahrur Dalimunthe, Boris Tampubolon dan Sarie Latif. (Bali Express/Istimewa)

BALIEXPRESS.ID – Liburan romantis pasangan suami istri asal Australia bernama Zivan Radmanovic, 32, dengan Gourdeas Jazmyn (GJ), 30, di Badung, Bali berubah menjadi mimpi buruk. Niat hati merayakan ulang tahun wanita pujaan hati dengan bulan madu, justru berujung tragis. 

Zivan jadi korban penembakan di villa tempatnya menginap, kawasan Munggu, Mengwi, Badung, Bali, pada Sabtu dini hari (14/6). Insiden itu terjadi ketika ia dan sang istri baru saja kembali dari makan malam.

Belum sempat melepas lelah, tiga pria yang juga berasal dari Australia Darcy Francesco Jenson, 37, Tupou Pasa I Midolmore, 37, dan Coskunmevlut, 23, menyerang secara brutal. 

Zivan tewas di tempat akibat tembakan di dada kiri yang menembus jantung. Sementara rekannya, Sanar Ghanim, 35, yang juga menginap di villa tersebut mengalami luka tembak dan berhasil selamat.

Hingga kini, motif aksi kejam tersebut masih menjadi misteri. Polisi pun telah meminta keterangan GJ sebanyak empat kali. Menurut Kuasa Hukum keluarga korban, Pahrur Dalimunthe, Boris Tampubolon dan Sarie Latif, menjelaskan, pemeriksaan terakhir dilakukan dengan protokol khusus.

Guna menjaga kondisi psikologis GJ yang masih sangat terguncang akibat trauma berat. Sari Latief, menyampaikan bahwa Zivan sempat dikejar hingga ke kamar mandi. GJ menyaksikan peristiwa berdarah tersebut dengan mata kepalanya sendiri.

"Istrinya syok berat saat mendengar tembakan. Ia hanya bisa berlindung di balik selimut, ketakutan dan tak sanggup bergerak," jelasnya, kepada awak media, Selasa (24/6).

GJ kini harus menanggung duka mendalam. Ia kehilangan pasangan hidup dan menjadi orang tua tunggal (Single parent) bagi enam anak mereka.

Dua anak kandung berusia 3 dan 9 tahun, serta empat anak angkat, termasuk satu yang sudah berusia 12 tahun. 

Seluruh anak mereka saat ini berada di Australia dan tidak ikut dalam perjalanan ke Bali. Sarie membeberkan bahwa kondisi GJ saat ini sangat memprihatinkan.

Ia sulit makan, kehilangan berat badan drastis, dan masih diliputi rasa takut meskipun mendapat pengawalan. "Dia benar-benar terpukul. Ke luar rumah pun masih trauma, dan belum tahu bagaimana akan memberi tahu anak-anak soal kematian ayah mereka," tuturnya.

Yang paling memilukan, Zivan sebenarnya datang ke Bali untuk pertama kalinya demi merayakan honeymoon, sekaligus ulang tahun GJ. 

Mengingat, sejak menikah mereka belum pernah bulan madu.

Namun, bukannya merayakan dengan sukacita, GJ harus menghabiskan hari ulang tahunnya dengan melihat jenazah suaminya di ruang forensik.

GJ kini hanya ingin pulang ke negaranya bersama jenazah sang suami.

Meski penuh luka dan trauma, ia berharap keadilan bisa ditegakkan dan tragedi serupa tak terulang.

Terlebih di destinasi wisata seperti Bali yang selama ini dikenal aman dan ramah bagi wisatawan mancanegara.

Sementara itu, Pahrur Dalimunthe menduga kuat bahwa penembakan ini bukan aksi spontan.

Berdasarkan hasil autopsi dan penyelidikan awal, mereka meyakini aksi ini terorganisir dan telah direncanakan.

Ketika disinggung apakah peristiwa ini terkait dengan jaringan kriminal atau gangster internasional, kuasa hukum enggan berspekulasi.

Pihaknya fokus pada fakta bahwa ini adalah pembunuhan keji. Apapun latar belakangnya, ini pelanggaran hukum berat terhadap nyawa manusia.

"Istri korban tidak mengenal para pelaku. Bahkan ia berharap bisa mengetahui siapa mereka dan apa alasan di balik penembakan itu," ujar Pahrur.

Lebih lanjut, Boris Tampubolon mengatakan korban meninggal karena tembakan yang tepat sasaran ke jantung.

"Para pelaku juga tampaknya sudah menyiapkan logistik seperti senjata api dan kendaraan untuk melarikan diri," tandasnya.

Maka dari itu, pihak keluarga mendesak polisi untuk tidak hanya membongkar jaringan pelaku, tetapi juga mengungkap siapa yang menjadi pemasok senjata api.

"Senjata itu tidak mungkin didapat di pinggir jalan. Kami minta aparat juga membongkar siapa yang menyuplai," tegasnya.

Diketahui, para pelaku sempat menginap di hotel mewah di Jakarta sebelum akhirnya kabur ke luar negeri.

Untungnya, mereka berhasil dibekuk aparat penegak hukum. Tragedi itu juga berlangsung begitu cepat.  (#)

Editor : I Gede Paramasutha
#bali #penembakan #istri