SINGARAJA, BALI EXPRESS - Suara gonggongan anjing bukan lagi penanda pagi, tapi jadi alarm bahaya yang menghantui warga. Dalam rentang tiga hari, 19 hingga 21 Juni 2025, delapan warga dari berbagai usia dilarikan ke fasilitas kesehatan akibat digigit anjing liar. Setelah diuji laboratorium, anjing-anjing itu dikonfirmasi positif rabies.
Peristiwa itu membuat tim gabungan dari Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, Satpol PP, belasan dokter hewan, perangkat desa, dan aparat kepolisian dari Polsek Seririt menyambangi Desa Kalisada dalam operasi darurat penanggulangan rabies. Mereka datang tak hanya membawa vaksin dan kandang jebakan, tapi juga harapan dan perlindungan.
“Kegiatan dilaksanakan tadi pagi. Dari kami, Polri, berperan sebagai pengawas dan menjaga keamanan supaya kegiatan berjalan lancar dan tertib,” ujar Kasi Humas Polres Buleleng, Iptu Yohana Rasalin Diaz, Rabu (25/6).
Dalam operasi darurat ini, 14 dokter hewan turun langsung ke lapangan, menyisir gang-gang sempit, pekarangan warga, dan jalan desa. Hasilnya, 285 ekor hewan berhasil divaksinasi, terdiri dari 239 ekor anjing dan 46 kucing. Langkah cepat ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan agar virus rabies tidak menyebar lebih luas.
Namun, kenyataan pahit tetap harus ditelan. 17 ekor anjing liar dan seekor kera harus dieliminasi. Tindakan ini diambil sebagai langkah terakhir demi keselamatan warga.
“Kami tentu tidak ingin melakukan eliminasi, tetapi ini bagian dari protokol pencegahan ketika hewan liar tak memiliki pemilik dan membahayakan keselamatan,” terang salah satu dokter hewan yang terlibat dalam operasi.
Baca Juga: Rotasi Mengejutkan di Polres Buleleng: Posisi Kunci Bergeser, Apa Dampaknya?
Kasi Humas yang akrab disapa Mami Yo pun mengimbau keras kepada masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap hewan peliharaannya.
“Kalau punya anjing atau kucing, jangan cuma kasih makan. Vaksin dong, rawat, jangan dilepas begitu saja. Ini bukan hanya soal rabies, tapi juga keselamatan orang lain. Jangan sampai hewan kita malah mencelakakan tetangga,” tegasnya.
Dari delapan korban yang digigit anjing, beberapa mengalami luka. Luka-luka itu didominasi pada gigitan di bagian paha. Bahkan ada korban yang mengalami luka robek pada perut dan patah pada jari. Berikut daftar korban gigitan :
- Made Prayoga (20) – Luka gigitan di paha.
- Yosefina Dahu Klau (54) – Luka di bagian pantat.
- Komang Murti (49) – Luka di paha dan siku.
- Ketut Karmini (57) – Luka di paha.
- Luh Wantrini (39) – Luka di paha.
- Luh Putu Akira Widiasih (7) – Luka di jari, telapak tangan, dan perut.
- Kadek Dwi Cahyani (3) – Luka di pantat.
- Ketut Kariani (50) – Luka robek di pinggang dan jari telunjuk kiri patah.
Di sisi lain, seorang anak berusia 3 tahun, Kadek Dwi Cahyani, harus menjalani suntik vaksin dalam tangis dan ketakutan. Sementara, Luh Putu Akira Widiasih yang baru berumur 7 tahun, mengalami luka di perut akibat gigitan brutal. Trauma ini bukan hanya fisik, tapi juga emosional, yang bisa membekas hingga dewasa.
Beruntung, seluruh korban telah diberikan vaksin rabies pasca gigitan, untuk mencegah dampak lebih lanjut. Penanganan medis cepat sangat krusial dalam kasus ini, mengingat virus rabies dapat menyebar ke otak dan bersifat fatal jika tidak segera diatasi.
Kejadian di Desa Kalisada ini menjadi alarm keras bagi seluruh warga Buleleng dan Bali pada umumnya. Kasus ini bukan yang pertama, dan tidak akan menjadi yang terakhir jika kesadaran kolektif tidak tumbuh.
Tim gabungan berharap kegiatan ini mampu menginspirasi desa-desa lain agar lebih waspada dan proaktif. Pemerintah daerah juga diharapkan memperluas jangkauan vaksinasi rabies secara rutin dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga hewan peliharaan dengan bertanggung jawab.
“Bukan soal punya hewan atau tidak, tapi soal kita peduli terhadap lingkungan dan keselamatan bersama,” ujar Mami Yo. ***